Mengapa Keuangan Syariah Booming? | DiaryHijaber.com

Writer : Someone Editor : Someone

Mengapa Keuangan Syariah Booming?

705 kali dilihat

Hijabers, di era globalisasi sekarang maraknya keuangan syariah pun ikut mengambil peran yang cukup signifikan. Selain karena aspek religius, banyak konsumen yang tertarik menggunakan produk keuangan syariah karena fleksibilitasnya, sentuhan langsung dengan aktivitas ekonomi, dan adanya aturan untuk tidak melibatkan unsur ketidakpastian.

Untuk menyambut keinginan ini, ternyata keuangan syariah telah mengembangkan sejumlah produk berbasis syariah mulai dari pinjaman untuk cicilan kendaraan bermotor dan rumah hingga proyek infrastruktur.

"Meski diatur di bawah aturan yang tegas, keuangan syariah tetap bisa melakukan penyesuaian dan menekan risiko. Ini membantu ekspansi dan diterima masyarakat," kata pengamat ekonomi Kuwait, Hajjaj Bukhdur seperti dikutip AFP, Senin (24/11).

Sebanyak 1,6 miliar Muslim saat ini merupakan klien industri keuangan yang kian populer setelah pada 1970-an hanya menempati porsi kecil dalam ekonomi global. International Monetary Fund (IMF), Bank Dunia, dan badan ekonomi global lainnya memprediksi aset institusi keuangan tumbuh sembilan kali lipat menjadi 1,8 triliun dolar AS sejak 2003 hingga 2013.

Bahkan, mereka memprediksi aset keuangan syariah sudah melewati dua triliun dolar AS. Menurut proyeksi Standard and Poor's, industri yang sudah merambah lebih dari 70 negara ini bisa mencapai aset hingga empat triliun dolar AS pada 2020.

Sebanyak 80% aset keuangan syariah saat ini masih pada perbankan, 15 % pada surat utang syariah (sukuk), 4 dalam instrumen investasi, dan satu persen dalam asuransi syariah (takaful).

Iran menduduki posisi pertama penyumbang aset perbankan syariah hingga 40
%, Arab Saudi 12 %, dan Malaysia 10 %. Perbankan syariah mampu tumbuh lebih unggul dari bank konvensional saat krisis global 2008. Dukungan modal dan likuiditas tampaknya melindungi mereka dari turbulensi pasar dan guncangan kredit.

"Secara umum perbankan syariah berhasil selamat dari dampak buruk krisis keuangan global 2008. Namun, tetap terkena dampak krisis kedua yang berakibat pada sektor real estate dan beberapa sektor lain di negara-negara Teluk," kata Direktur Manajemen Bank Dunia, Mahmoud Mohieldin.

Di negara-negara Teluk, krisis keuangan sama-sama memukul perbankan konvensional dan syariah. Perbedaannya, sektor keuangan syariah memiliki aset yang solid dan menjadi kekuatan mereka.

"Keuangan syariah tidak menyentuh produk derivatif dan spekulasi," kata mantan ekonom senior sebuah bank konvensional kenamaan Timur Tengah, Abu Dahesh.

Dikenalkan lebih dari satu dekade lalu sebagai instrumen investasi jangka panjang, sukuk menjadi produk keuangan syariah paling sukses. Syariah melarang penjualan utang sehingga berbeda dengan keuangan konvensional. Sukuk merupakan aset sekuritas
yang memberikan hasil bagi investor dari satu proyek yang didanai. Bagi hasil yang ditawakan juga lebih baik.

Juni lalu, Inggris menjadi negara penerbit sukuk pertama selain negara-negara mayoritas Muslim dengan nilai 200 juta poundsterling. Sambutannya pun luar biasa.

Nilai sukuk outstanding telah mencapai 269 miliar dolar AS pada 2013 dan diharapkan bisa tumbuh dua angka hingga akhir tahun ini, demikian prediksi Gubernur Dubai International Financial Centre, Essa Kazim.

Meski begitu, ada juga yang berpandangan skeptis dengan keuangan syariah. Perkembangan keuangan syariah dinilai hanya karena embel-embel agama. Namun, ada pula yang melihat keuangan syariah masuk akal dengan perkembangan keuangan saat ini. "Saya telah menggeluti perbankan syariah selama dua dekade karena murni alasan ekonomi dan profit," kata seorang manajer sektor privat, Amin Mahmoud.

Jadi Hijabers, dapat dilihat bahwa keuangan syariah tidak dapat dipandang sebelah mata dan akan terus berkembang. Terbukti telah diprediksikan bahwa aset keuangan syariah sudah melewati dua triliun dolar AS. Oleh karena itu, asuransi syariah merupakan pilihan yang tepat.

 

Sumber : Republika

Image title



RELATED ARTICLE