Antara Cinta Dan Cita-Cita | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : NayMa

Antara Cinta Dan Cita-Cita

298 kali dilihat

Maksud hati ingin menggapai cita-cita yang tinggi, tapi apa daya hati rasanya galau aja pengen keburu nikah.  Di tengah-tengah waktu kuliah, sudah pengen banget membina rumah tangga. Tiap hari mupeng banget sama bahasan tentang suami istri. Selanjutnya, fokus jadi terbagi dua, deh. Waktunya belajar, badan menghadap ke buku tapi pikiran jalan-jalan entah kemana.

Kawan, tangan kita hanya dua, tapi pikiran kita hanya satu. Lalu kenapa harus menyiksa diri dengan situasi yang seharusnya sih bisa dibuat menyenangkan. Menikah memang nggak boleh di tunda kalau kita sudah siap. Tapi apa betul kita sudah benar-benar siap kalau menikah sekarang? Mungkin memang nggak ada kesiapan yang 100 % siap, tapi paling nggak beberapa persen mendekati itu, apa kita sudah benar-benar yakin siap? Menikah adalah ibadah, dan bukan untuk menambah masalah. Karena itu semua juga nggak bisa dilakukan serba buru-buru, tergesa-gesa dan serampangan. Persiapannya harus matang, orang yang kita nikahi pun harus kita kenal dengan baik, visi dan misi pernikahan kita ke depan juga harus jelas dan penuh pertimbangan, dan lain sebagainya. Nggak bisa langsung nikah habis itu, sudah. Nggak sesimple itu, kawan!

Akan ada banyak kewajiban dan tanggung jawab yang harus kita lakukan. Yang pasti kita kudu siap dengan semua itu. Dan menikah juga berarti kehidupan berdua, alias nggak single seperti dulu lagi. Nggak boleh lagi mikir acara sendiri, semua harus serba berbagi, dan persetujuan berdua. Belum lagi kalau nanti setelah menikah kita punya anak. Maka kitappun juga diharuskan bertanggung jawab atas anak-anak kita. Nggak cuma urusan dunianya, tapi juga pendidikan untuk keselamatan akhiratnya. Intinya semua akan dan harus kita pertanggung jawabkan nanti, nggak cuma pada diri kita sendiri, dan keluarga, tapi juga pada Allah penguasa hidup kita.

Panjang deh, kalau mau diuraikan tentang masalah pernikahan. Maka dari itu, sembrono banget kalau pernikahan dilakukan hanya sekedar karena “galau dan ngebet pengen nikah” saja.

Kawan, tanya pada diri kita sendiri seberapa penting  cita-cita kita nanti dan sekolah kita ini. Lalu seberapa penting juga urusan menikah buat kita untuk kita segerakan. Jangan hanya bingung menuruti nafsu saja, tapi pertimbangkan matang-matang atas semuanya. Karena nanti kalau kita sampai salah pertimbangan, korban pertama yang merasakan nggak enaknya adalah diri kita sendiri.

Selesaikan dulu satu persatu persoalan kita dulu. Hidup memang banyak memberikan pilihan, dan kita memang disuruh memilih satu, atau satu persatu. Atau kalau beberapa urusan langsung maju berbarengan, mungkin kita bisa menyelesaikannya, tapi hasilnya nggak akan semaksimal kalau kita benar-benar fokus pada satu urusan atau menyelesaikannya satu persatu.

Jadi? Jadi pikirkan baik-baik mana yang harus didahulukan menikah atau menyelesaikan studi dulu. Jangan dua urusan ini dan itu dicampur aduk jadi satu. Tapi coba selesaikan satu persatu. Jangan menjadikan orang lain sebagai ukuran atau role model kita. Mereka bukan kita. Mereka punya kemampuan tersendiri yang beda dengan kita. Tapi tanyakan pada diri kita sendiri dengan serius dan tanpa tercampuri nafsu ini ono, tentang mana yang harus kita  prioritaskan terlebih dulu.

 

(NayMa)



RELATED ARTICLE