Antara Kata dan Perbuatan | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Antara Kata dan Perbuatan

652 kali dilihat

Lidah memang tidak bertulang” itulah peribahasa yang menggambarkan bahwa manusia bisa mengatakan apapun sesuai dengan keinginan mereka. Bahkan terkadang bagi mereka yang jahat, tidak berlaku lagi batasan, aturan, ataupun etika dalam berkata-kata tersebut.  Termasuk juga ketika mereka mengoreksi kesalahan orang lain. Manusiawinya, ini lebih mudah untuk dilakukan dari pada menyeleksi kesalahan demi kesalahan mereka sendiri. Ibarat kata “Gajah dipelupuk mata tak tampak, namun semut diseberang lautan sangat nampak,” yang artinya kesalahan orang lain sangat kelihatan, namun ia malah melupakan kesalahan dirinya sendiri.”

Namun hal ini tidak berlaku bagi mereka yang mengingat Allah dengan sungguh-sungguh. Dia tidak akan hanya sibuk berkoar- koar menasehati orang lain, namun malah melupakan perbaikan diri mereka sendiri. Ia akan menyadari bahwasanya ia memang diperintahkan untuk mengingatkan kepada saudaranya agar mengerjakan perkara yang ma’ruf, serta mencegah dari melakukan perbuatan yang mungkar, seperti firman Allah di dalam Al Quran, (Yang artinya), Dan hendaklah ada di antara kalian, segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali Imran: 104). Namun disisi lain, dia juga akan dimintai pertanggung jawaban tentang perbaikan dirinya sendiri.

Allah tidak menyukai orang- orang yang hanya sibuk mengurusi orang lain, namun malah melupakan perbaikan diri mereka sendiri. Dan orang- orang yang beriman dengan sungguh- sungguh, akan sangat memahami hal tersebut. Termasuk juga memahami peringatan Allah Subhanahu Wata’ala di dalam Al Quran ini, (yang artinya), “Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kalian melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kalian membaca al-Kitab (Taurat). Maka tidakkah kalian berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Akan didatangkan seorang pada hari kiamat lalu dicampakkan ke dalam neraka. Di dalam neraka orang tersebut berputar-putar sebagaimana keledai berputar mengelilingi mesin penumbuk gandum. Banyak penduduk neraka yang mengelilingi orang tersebut lalu berkata, "Wahai Fulan, bukankah engkau dahulu sering memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran?’ Orang tersebut menjawab, ‘Sungguh dulu aku sering memerintahkan kebaikan namun aku tidak melaksanakannya. Sebaliknya aku juga melarang kemungkaran tapi aku menerjangnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hijabers, memang tidak akan ada manusia yang sempurna dan lepas dari dosa kecuali karena rahmat dan kasih sayang Allah. Karena itulah kita sebagai manusia tidak boleh berhenti dan bosan untuk selalu melakukan introspeksi diri, terutama terhadap kesalahan serta kekurangan yang ada pada diri kita, dan bukan sekedar menyuruh orang lain untuk berbuat baik saja.

Ilmu yang kita miliki haruslah kita amalkan, terutama pada diri kita sendiri dahulu, dan bukan hanya kita gunakan untuk memperbaiki serta memberitahukan kepada orang lain saja. Jangan sampai kita yang berilmu malah terlihat bodoh, karena tidak mampu menerapkan yang kita bicarakan tersebut untuk perbaikan diri kita dahulu, seperti yang telah dipesankan Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, “tanda kebodohan itu ada tiga; pertama mengagumi diri sendiri, kedua banyak bicara dalam hal yang tidak manfaat, ketiga melarang sesuatu namun melanggarnya."



RELATED ARTICLE