Antara Masjid dan Mall | DiaryHijaber.com

Writer : Someone Editor : Someone

Antara Masjid dan Mall

473 kali dilihat


Zaman sekarang, ke-Mall adalah tempat yang paling nyaman untuk berkumpul dengan kerabat atau keluarga. Tema obrolan apapun pas untuk dibicarakan. Waktu terasa sangat cepat berjalan. Tidak heran, semakin hari semakin banyak pemilik pusat perbelanjaan yang berlomba-lomba mendandani tempat mereka agar jadi yang paling layak dikunjungi. Cafe dan tempat makan semakin menjamur, outlet pakaian bersaing menyediakan diskon serta aneka hiburan tersedia di sana.

Untuk para pengunjungnya, harga akhirnya tidak melulu menjadi yang masalah utama. Kesempatan untuk bercengkrama, mendapatkan hiburan dan melepas penat. Tidak heran  banyak Mall sekarang ramai didirikan, bahkan dijadikan pusat kegiatan.

Sementara itu, masjid yang penuh rahmat, masjid yang dahulu oleh Rasulullah SAW dicontohkan sebagai tempat untuk melakukan banyak kegiatan mulia, kini mulai ditinggalkan. Banyak memang masjid-masjid baru yang didirikan. Tapi seperti rumah kosong, yang hanya disinggahi ketika kita sholat, atau sekedar mampir melepas penat. Selebihnya, sepi sama sekali tanpa kegiatan.

Tidak terkecuali di bulan Ramadhan yang mulia. Setiap tahun, kejadian yang sama akan terulang lagi dan lagi. Masjid yang diawal bulan terlihat ramai bahkan meluber, tapi lama kelamaan keramaian itu berpindah ke-Mall atau pasar-pasar. Orang-orang sibuk mempersiapkan “bekal” mereka untuk menyambut hari raya. Tidak salah memang, tapi jika hal ini kemudian mengesampingkan kewajiban kita kepada Allah sebagai yang utama, apakah itu bukan sebuah kesalahan?.

Hijabers, ini bukan tentang perubahan zaman. Tetapi menunjukkan kecintaan para manusia terhadap dunia semakin bertambah dan bertambah. Mereka mungkin tahu, bahwa “Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjid dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasar.” (HR. Muslim). Namun pengaruh “zaman modern” telah banyak melunturkan prinsip mereka. Semua demi kesenangan, modernitas, gengsi dan atau gaya hidup.  

Hal ini bukan berarti kita dilarang total untuk pergi ke pasar. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dahulu ketika keluar rumah dan menuju pasar, lalu melewati para pandai besi dan melihat apa yang mereka keluarkan dari kobaran api, kecuali air mata mengalir deras dari kedua matanya. Ketika Al Hasan bin Shalih masuk kepasar, serta melihat orang yang menjahit dan ada yang membuat sesuatu, maka ia berkata, “Lihatlah, mereka terus bekerja hingga kematian datang menjemput mereka.”

Namun mereka tidak lantas menghabiskan waktunya untuk berada dan bersenang-senang di sana. Mereka hanya melakukan sebatas pada keperluan.

Hijabers, dekatkan diri dengan masjid. Hati akan terasa tentram karena rahmat Allah senantiasa turun. Seperti sabda Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam berikut, “Tujuh golongan yang Allah akan menaungi mereka pada suatu hari (hari kiamat) yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; (diantaranya) Seorang penguasa yang adil, pemuda yang dibesarkan dalam ketaatan kepada Rabbnya, seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, ….” (Muttafaqun alaihi)

Semoga kita termasuk orang-orang yang lembut hati, dan yang dilembutkan hatinya oleh Allah, sehingga yang mudah mendapatkan rahmat Allah karena hati kita selalu terpaut dengan masjid, tempat dimana ketakwaan dan ketaatan kepada Allah banyak dilakukan. Aamiin

 

 



 

 

Writor : Ratna. P. Sari

Editor : BL




RELATED ARTICLE