Beberapa Alasan Kita Sulit Menjadi Kaya | DiaryHijaber.com

Writer : Someone Editor : Someone

Beberapa Alasan Kita Sulit Menjadi Kaya

435 kali dilihat

Allah itu Maha Kaya, Allah juga maha pengasih dan penyayang kepada hambaNya. Kekuasaannya meliputi langit dan bumi, dan apa-apa yang tersimpan di dalamnya. Dialah raja di atas segala raja, dengan kemampuan Maha memberi yang tidak akan pernah dimiliki siapapun di dunia sampai langit lapis ke tujuh di sana.

Tapi kenapa banyak dari kita yang lalu sulit untuk menjadi kaya? Bukankah memberi kekayaan itu hal yang sangat gampang bagi Allah? Ataukah kesalahannya ada pada diri kita sendiri, sehingga kita sulit kaya, dan malah mendapatkan musibah kemiskinan dalam hidup kita?

“Dan musibah apa saja yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuro: 30).

Hijabers, sama sekali bukan salah Allah jika kita belum menjadi kaya. Karena setiap orang pasti punya satu momen yang memungkinkannya untuk menjadi kaya atau lebih kaya. Tapi banyak pula kelemahan dan kekhilafan dari orang itu sendiri yang lantas melewatkan kesempatan itu begitu saja. Atau ketika seseorang tersebut sudah menjadi kaya, beberapa kesalahan justru malah dilakukan sehingga akhirnya dia jatuh miskin, seperti contoh berikut ini,

  1. Tidak mau Bersedekah

Perhitungan Allah dalam mengatur rejeki bagi hambaNya, pastilah sangat berbeda dengan apa yang ada dalam “kalkulator” manusia. Seperti contohnya adalah bersedekah. Kita sebagai manusia biasa kadang memiliki nalar dimana ketika uang yang kita miliki, kita berikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan, maka uang kita akan berkurang. Tapi tidak begitu bagi Allah. Selalu akan ada imbalan lebih baik bagi siapapun yang bersedia melakukan amal baik. Dan itu sangat mudah bagi Allah untuk melakukannya.

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al Hadiid: 7).

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga disebutkan,

“Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; "Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya", sedangkan yang satunya lagi berkata; "Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil)." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hijabers, pelit dalam bersedekah sama saja menyia-nyiakan kesempatan kita untuk menjadi kaya dengan harta penuh berkah. Dengan kata lain hal ini juga akan menyebabkan kita berada lebih lama dalam kondisi kemiskinan.

  1. Boros untuk sesuatu yang kurang perlu

Seberapapun kaya orang tersebut, bila dia gemar berboros-boros ria, maka lama–lama kekayaannya juga akan habis. Hal yang sama juga akan terjadi kepada mereka yang miskin. Ketika dia mendapat harta sedikit saja, lalu semuanya habis dibelanjakannya untuk urusan yang kurang perlu, maka sama saja dia melewatkan kesempatan untuk menjadi orang kaya.

Karena itu, dalam keadaan apapun sekarang kita skala prioritas harus tetap kita lakukan dalam hidup kita. Jika memang kita sudah tahu tentang bahaya “lebih besar pasak dari pada tiang” dan kerugian mengeluarkan uang tanpa urusan yang perlu, lalu kenapa harus mengumbar nafsu belanja barang-barang sekunder dan tersier? Atau jika memang keuangan sudah menipis, kenapa harus memaksakan diri untuk mengikuti segala zaman entah teknologi, fashion atau yang lain diluaran sana? Jangan sampai masalah uang akhirnya membuat urusan hidup kita semakin bertambah banyak. Bukan begitu, Hijabers?

  1. Malas Bekerja

Kemalasan itu berbanding lurus dengan kemiskinan. Bagaimana tidak, kesempatan sebesar apapun, dan atau pekerjaan semudah apapun akan percuma bila diberikan kepada pemalas. Mereka hanya hidup dalam mimpi mereka untuk jadi orang kaya. Yang berarti sangat kecil bahkan nol harapan dan peluang bagi mereka untuk bisa menjadi kaya. 

  1. Kebiasaan Berhutang

Berhutang kadang sering dilakukan orang untuk memenuhi kekurangan yang bersifat mendesak. Tapi ada juga tipe orang yang memang suka berhutang hanya untuk bersenang- senang saja. Di akhir cerita, merekapun biasanya susah sekali untuk mengembalikan uang hasil berhutang tersebut. Akhirnya ia malah jadi terpuruk dan makin miskin, belum lagi ditambah rasa kebingungan karena hari-harinya dipenuhi tagihan-tagihan yang datang.

Karena itu Hijabers, kalau kita ingin agar hati dan pikiran tentram, serta terbebas dari beban memang kebiasaan berhutang harus diminimalisir, kecuali kita dalam keadaan yang benar-benar terdesak. Dan pastikan kita mengembalikan segera setelah memiliki harta lebih, agar tidak mengurangi hak saudara kita yang telah meminjamkan hartanya tersebut kepada kita.

  1. Takut dan Ragu Untuk Memulai Usaha

Continue reading on next page...



RELATED ARTICLE