Belajar Buat Nggak Gampang Sedih Karena Hal Dunia | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : NayMa

Belajar Buat Nggak Gampang Sedih Karena Hal Dunia

265 kali dilihat

Mencoba buat nggak bersedih dalam keadaan sedih itu nggak gampang loh. Tapi bukan berarti nggak bisa. Emang sih perlu kemampuan khusus dan latihan yang banget buat melakukan semua itu. Dan kabar baiknya, kita sebagai muslimah terbantu banget buat lebih bisa melakukannya, karena landasan dan alasan kita emang ada banget buat bisa menghindari rasa sedih.

Apa sih itu?. Pastinya adalah keyakinan kita kalau semua hal yang buat kita sedih itu adalah cobaan dari Allah. Cobaan yang berarti kita sedang di coba, di tes aja gitu sama Allah buat tahu apakah kita tetap yakin kalau Allah kasih pertolongan atau kita putus asa atau nggak. Cobaan itu juga biar kita kelihatan yang aslinya, kita mau bangkit buat berusaha dan jadi kuat atau cuma sekedar nangis bombay mengharap penyelesaian masalah kita itu runtuh dari langit alias menghayal level ke 7. Allah juga pengen lihat dengan sedihnya kita itu, kita berharap cuma ke Allah, atau malah berbalik arah minta bantuan ke yang lain?. Dan lain sebagainya...

Kalau kita tahu kesedihan kita itu cuma sekedar acara tes mengetes oleh Allah, maka kita pasti ngarep buat lulus. Dan lulus itu berarti kita nggak boleh sedih, tapi kita bisa bangkit dan mengatasi hal yang membawa kesedihan itu.

Kawan, sedih itu manusiawinya manusia kok. Nabi aja dulu juga sedih, dan sahabat Nabi juga pernah menangis. Tapi kesedihan terdalam mereka bukanlah tentang kehilangan sesuatu tentang dunia, tapi kebanyakan karena kekhawatiran mereka tentang urusan akhirat mereka.

Contohnya, seperti saat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam diperlihatkan oleh Jibril pintu neraka ke 7. Dan lalu beliau menerima penjelasan bahwa pintu ke 7 itu diperuntukkan bagi umatnya yang berdosa besar dan meninggal sebelum mereka mengucapkan kata taubat. Beliau bersabda: "Ya Jibril, sungguh besar kerisauan dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari umat ku yang akan masuk ke dalam neraka?" Jawabnya: "Ya, yaitu orang yg berdosa besar dari umatmu.". Lalu setelah itu beliaupun bersedih dan menangis dengan sangat.

Umar bin Khatab sahabat setia Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dulu juga bersedih. Padahal beliau adalah orang yang fisiknya sangat kuat, gagah dan tangguh. Bahkan setan saja sampai keder saat ketemu Umar. Tapi tangis Umar pernah meledak karena saking sedihnya. Kejadian itu terjadi saat mengetahui utusan Aisyah radhiyallahu ‘anha  datang. Utusan itu adalah seorang hamba sahaya yang membawa seekor unta.

Tapi bukan hamba sahaya dan unta itu yang membuat Umar menangis. Tetapi wasiat di baliknya. Aisyah menceritakan, sebelum Abu Bakar radhiyallahu‘anhu wafat, ia menyampaikan wasiat kepada Aisyah untuk memeriksa seluruh hartanya. Jika ada yang bertambah setelah dia menjabat sebagai khalifah, maka abu Bakar meminta putrinya itu untuk mengembalikan kepada negara melalui khalifah yang terpilih setelahnya.

Dan setelah dihitung, ternyata tidak ada yang bertambah dari harta abu bakar kecuali unta yang biasa dipergunakan untuk menyirami kebun dan seorang hamba sahaya pengasuh yang menggendong bayinya, yang datang kepada Umar kala itu.

“Allah merahmati Abu Bakar” kata Umar sambil menangis sesenggukan, “ia telah menyusahkan orang-orang setelahnya.” Hal itu dikatakan umar karena khalifah sesudahnya yaitu dirinya, tahu bahwa dia nggak akan mampu alias akan sulit sekali mengungguli Abu Bakar dalam hal ketaatannya.

Kawan, Rasulullah dan para sahabatnya akan merasa sedih yang teramat sangat bila hal tersebut akan memberikan kerugian bagi mereka di akhirat mereka nanti. Dan sebaliknya, bila hal itu hanya sekedar urusan dunia saja, mereka hanya sekedar bersedih sebentar saja. Mereka nggak terlalu ambil pusing ketika harus bertemu dengan masalah dunia mereka. Buat mereka hal itu hanyalah hal yang biasa saja.

Dan kitapun harus mencontoh teladan yang diberikan oleh mereka itu. Jangan gampang tumbang hanya karena masalah dunia. Karena selama kita hidup, masalah itu akan tetap datang silih berganti menemani hidup kita. Tapi sedihlah, khawatirlah tentang keadaan akhirat kita nanti. Dengan begitu hidup kita akan terasa lebih nikmat, dan kesedihan itu akan jadi sangat berarti dan nggak hanya sekedar buang waktu saja. Kesedihan model seperti itu juga akan membawa kita menjadi lebih taat, lebih lurus, dan justru lebih bahagia. Kok bisa? Karena dengan kesedihan yang seperti itu, kita akan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dan setelahnya, hati akan lebih damai, dan kita jadi lebih bahagia. Bukan begitu, bukan?

 

(NayMa)



RELATED ARTICLE