Belajar Dari Awkarin | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna. P. Sari Editor : BL

Belajar Dari Awkarin

280 kali dilihat

(DiaryHijaber.com) - Awkarin, potret remaja jaman sekarang yang banyak terlupakan oleh kita terutama para orang tua. Bahasanya yang cenderung kasar, pakaiannya yang minim dan menebar aurat, serta caranya berekspresi tentang cinta dan kehidupan membuat kita banyak merasa heran, terkejut bahkan ikut menghujat kelakuan seorang putri remaja yang sedang menjadi pembicaraan dimana- mana ini. Fenomena seperti ini bagaikan gunung es di lautan, yang kelihatan hanya sedikit saja, padahal dipermukaan peristiwa serupa sangat banyak terjadi.

 

Menjadi remaja di jaman sekarang mungkin lebih susah dari pada beberapa tahun lalu. Karena pengaruh buruk media dan teknologi pasti lebih kuat, gaya hidup semakin hedonis, dan persaingan pun semakin ketat baik dalam hal prestasi maupun banyak bidang lain dalam kehidupan. Keadaan ini semakin memburuk karena ditambah dengan sedikitnya bimbingan positif yang mereka peroleh dari orang tua dan lingkungan, yang semakin sibuk dengan kepentingan masing- masing.

 

Akhirnya para remaja ini banyak tumbuh dengan cara mereka sendiri. Mereka hanya ditumbuhkan oleh alam, tanpa adanya ajaran dan arahan baik dan buruk tentang kehidupan. Ketika mereka salah, mereka hanya di hujat, namun tanpa solusi. Jadilah, pikiran merekapun terbentuk bahwa acara hujat menghujat adalah budaya biasa, layak dilakukan, dan malah merupakan bagian dari gaya hidup modern.

 

Mereka semakin asing dengan kebaikan serta nilai- nilai agama. Kehidupan yang mereka jalani akhirnya tak lebih dari sekedar menghabiskan jatah hidup dari Allah. Dan ketika mereka nanti telah dewasa dan memasuki dunia keluarga, maka “warisan” pendidikan inipun akan banyak diturunkan pada generasi mereka selanjutnya.


Hijabers, kita sebagai seorang muslim hendaknya harus memutus mata rantai setan ini, dan memulai sebuah babak kehidupan yang lebih baik kedepannya. Kasus tentang Awkarin telah banyak mengajarkan kepada kita bahwa peran dan arahan orang tua memang sangatlah penting demi kebaikan kehidupan anak. Jika orang tua lalai, maka anak akan lebih salah jalan, salah pergaulan, dan salah menilai kehidupan. Seorang anak bisa saja memiliki kehendaknya sendiri dalam menjalankan hidupnya, namun ketika orang tua bisa membuat mereka nyaman dan mendampingi mereka dengan sabar, hal ini tentu akan membuat anak lebih dekat dan akan lebih menuruti anjuran orang tua mereka, dari pada sekedar ikut larut dalam pengaruh buruk lingkungan sekitar mereka.

 

Karena itu, kitapun sebagai orang tua juga harus belajar tentang bagaimana memperlakukan anak, dan tak lupa selalu mendoakan mereka agar mendapatkan hidayah dari Allah, agar anak- anak kita akan tetap dalam kebaikan. Karena doa orang tua adalah sangat mustajab bagi anak- anak mereka.

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda, (yang artinya), “tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian dan doa orang yang terdholimi” (Hr. Abu Daud)

 

Perlu kita ingat pula bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan anak- anak kita adalah tanggung jawab kita yang Allah nanti pasti akan menanyai kita tentang keadaan mereka. Karena itu orang tua harus bisa menata diri mereka dahulu, menata iman mereka dahulu dan selesai dengan diri mereka sendiri dahulu, agar anak merasa nyaman ketika bersama dengan orang tua. Dengan begitu anak akan menjadikan mereka figur yang patut di contoh, disayang dan dipatuhi. Sehingga bimbingan serta komunikasi orang tua akhirnya juga dapat diterima dengan enak oleh anak.

 

Lalu sang anakpun tidak perlu lagi mencari figur teladan di luaran, atau terperosok ke dalam urusan yang seharusnya tidak mereka alami di masa muda. Mereka tidak perlu melarikan diri orang lain yang mereka namakan kekasih, hanya untuk sebuah kasih sayang, dan atau malah pada obat- obatan terlarang, seks bebas, minuman keras, atau rokok, hanya untuk sekedar alasan mencari kesenangan dan ketenangan.

 

Semoga Allah menurunkan hidayah kepada kita agar menjadi orang tua yang lebih baik, dan menjadikan anak- anak kita generasi yang taat kepada Allah, dan bisa menjadi “investasi” yang membahagiakan bagi kita kelak di akherat. Aamiin.



RELATED ARTICLE