Belajar Kebaikan Dari Siti Hajar | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna. P. Sari Editor : BL

Belajar Kebaikan Dari Siti Hajar

230 kali dilihat

(DiaryHijaber.com) - Siti Hajar adalah seorang wanita yang mulia. Beliau adalah juga istri yang memiliki keimanan yang kuat kepada Allah Subhanahu wata’ala, serta taat sekali kepada suaminya, Nabi Ibrahim. Beliau rela ditinggal oleh suaminya dipadang yang tandus dan tak berpenghuni, dan hidup hanya bersama anaknya yang masih bayi, demi menjalankan perintah Allah.

 

Melihat apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim suaminya kala itu, Hajar hanya bertanya, “Apakah Allah yang perintahkan ini kepadamu?”. Dan Nabi Ibrahimpun mengiyakannya.

 

Mengetahui hal tersebut, bukannya sedih namun Hajar malah langsung menghibur suaminya, “Kalau begitu Ibrahim, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami. Berangkatlah, jangan kau pikirkan kami, Allah akan menjaga kami"

 

Dengan berat hati Nabi Ibrahim pun akhirnya pergi dan meninggalkan mereka. Dengan linangan airmata, beliau lalu berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (Q.S Ibrahim : 37).”

 

Dan Allah tidak pernah menyia- nyiakan hambaNya yang senantiasa bertakwa kepadaNya. Daerah yang dahulunya tandus dan tak berpenghuni itu akhirnya menjadi subur dan ramai dikunjungi manusia setelah adanya sumber air zam- zam yang muncul dari hentakan kaki Nabi Ismail yang kala itu masih bayi. Allah menunjukkan kuasanya yang besar. Sebagai hadiah dari ketakwaan yang serius yang telah dengan ikhlas mengabdi kepadaNya.

 

Dan Hijabers, banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Siti Hajar Dan Nabi Ibrahim ini. Beliau Siti Hajar selalu taat kepada Allah serta mendukung suaminya untuk selalu hidup dalam ketaatan kepada Allah, dan malah bukan menghalang- halanginya. Walaupun sebagai konsekuensinya, banyak hal yang terasa berat akan dialaminya. Namun beliau tetap ikhlas menjalani semua itu karena ingin ridho dari tuhannya.

 

Beliau yang rela hidup bersama bayinya dipadang yang tandus sendirian, adalah hal yang mustahil sebenarnya untuk dilakukan. Namun tawakkal beliau kepada Allah adalah yang menguatkannya. Dan akhirnya, buah dari tawakkal itu tidak berakhir sia- sia saja. Beliau dan anaknya tetap hidup dalam penjagaan Allah, dengan kehidupan yang lebih baik tentunya.

 

Kita juga harus belajar kepada beliau tentang kesabaran dalam menjalankan apa yang Allah perintahkan. Walaupun secara manusiawinya, beliau juga merasakan kesedihan dan rasa berat, namun semua dihayatinya hanya sebagai cobaan dari Allah saja.

 

Semoga kita bisa mencontoh apa yang beliau lakukan, dan mempraktekkan semuanya dalam kehidupan kita, agar kita juga mendapatkan kebahagiaan seperti yang beliau dapatkan serta keridhoan Allah ta’ala. Aamiin.



RELATED ARTICLE