Belajar Menerima Nasehat | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : NayMa

Belajar Menerima Nasehat

163 kali dilihat

Nggak ada manusia yang sempurna dan selalu benar di dunia ini. Ada kalanya kita keseleo sikap tanpa di sengaja. Nggak terkecuali para Nabi Allah. Sebut saja, Nabi Yunus yang pernah mohon ampun atas segala kesalahan beliau saat beliau ditelan hidup-hidup oleh ikan di laut. Atau Nabi Muhammad yang juga pernah “ditegur” langsung oleh Allah karena bermuka masam ke orang buta.

Kawan, kalau mereka saja pernah salah, apalagi kita manusia biasa yang sangat biasa. Ya nggak sih?. Karena itu, kita butuh untuk saling mengingatkan satu sama lain. Karena setiap hari kita akan berkubang dengan yang namanya kesalahan, dan kekhilafan. Hal ini bukan berarti yang mengingatkan kita adalah lebih baik dari kita, dan atau sebaliknya. Tapi saling menasehati dan mengingatkan adalah bentuk nyata kepeduliaan kita, dan justru pemakluman kita atas kekurangan orang lain.

Dan jika kita pada posisi yang salah dan atau yang harus dinasehati, maka lebih baiknya kita memang jauh-jauh dari rasa benar sendiri dan atau keras kepala. Secara, kedua sikap itu nggak bawa untung sama sekali buat kita. Karena faktanya, orang yang cenderung nggak mau menerima nasehat, dia seperti pakai kacamata kuda, dan lalu hidup dalam dunia yang dibuatnya sendiri. Dan ketika dia melihat ke dunia luar yang nyata, dia kaget banget dan lalu malah bingung sendiri tentang apa yang harus dia lakukan. Lama-lamapun dia jadi tersisih karena dia ternyata telah menjadi orang yang nggak bisa luwes alias kaku sebab dalam pikirannya, bahwa dialah yang paling benar, dan dunia akan berjalan sesuai dengan kehendaknya. Padahal nggak sama sekali.

Selanjutnya, keadaan yang terjadi bisa ditebak lah, dia sedih, bingung, bahkan sampai terpuruk. Dan kabar buruknya satu-satunya korban yang merasakan akibat pahit dari semua itu nggak lain adalah dirinya sendiri.

Kawan, nasehat adalah sebuah bentuk kasih sayang dari orang lain buat kita loh. Orang lain dengan segala kehidupannya yang sudah lain dari kita bisa saja nggak perduli dengan kita. Mereka sebenarnya bisa saja memilih cuek dengan sikap kita yang salah atau benar, kita mau jungkir balik atau salto sekalipun dan dia nggak perduli, itu sih sah-sah aja. Mereka bisa melakukannya, dan nggak salah juga kok. Toh mereka nggak akan ditanya tentang tanggung jawabnya atas hidup kita. Toh membuang waktu juga kan, apalagi kalau yang dinasehati adalah yang tipe keras kepala dan hanya menganggap diri dia sendirilah yang paling benar.

Tapi orang lain itu memilih buat memberi nasehat kebaikan kepada kita, dengan tujuan agar kita menjadi kembali baik dan atau yang lebih baik. Seharusnya kita berterimakasih kepada mereka yang telah repot-repot meluangkan waktu dan pikirannya buat kita.

Apalagi jika nasehat yang diberikan oleh mereka adalah hal yang berkaitan dengan agama. Jangan sampai sikap kita hanya sekedar masuk kuping kiri dan keluar di kuing kanan. Karena dalam agama terkandung sebaik-baik nasehat buat hidup kita, kawan.  

Dari Abu Ruqoyyah Tamim bin Aus Ad Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasehat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim)

Kita ini hanya sekedar hamba, kawan. Jangan pernah sombong dengan menolak sebuah nasehat seakan diri kita ini sudah nggak perlu sebuah perbaikan. Nasehat ibarat perhatian, dan sebuah kesempatan kedua bagi kita buat memperbaiki diri agar bisa lebih baik kedepannya. Dan bukankah memang hal itu yang selalu kita inginkan setiap waktu?

 

(NayMa)



RELATED ARTICLE