Belajar Rukun Dengan Saudara Kita | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : NayMa

Belajar Rukun Dengan Saudara Kita

216 kali dilihat

Dulu, saat masih kecil kita senang sekali rasanya ketika melihat kehadiran adik kita. Karena kita nggak lagi sendiri dan ada teman bermain bareng. Walau kadang suka jahil-jahilan tapi akhirnya juga balik-balik rukun lagi.

Tapi sayangnya keadaan ini biasanya banyak berubah ketika kita telah dewasa. Kita lalu banyak yang justru konflik serius dengan saudara kita. Alasannya sih macam-macam. Dari mulai yang masuk akal sampai yang nggak masuk akal. Tapi inilah dunia nyata, demi sebuah kepentingan, orang kadang nggak lagi melihat hubungan darah yang begitu erat antara keduanya.

Salah satu yang paling tragis adalah antara Habil dan Qabil. Konflik antara keduanya berakhir menyedihkan dengan meninggalnya Habil ditangan Qabil. Semua karea rasa iri Qabil atas banyak hal yang Habil punya. Selanjutnya kisah ini dicatat oleh sejarah sebagai pembunuhan yang pertama kali terjadi di dunia ini.

Begitupun yang banyak terjadi disekitar kita. Kadang hubungan saudara sudah nggak berarti lagi dibanding kebutuhan dunia yang mereka harus cari. Maka, cerita selanjutnya mengorbankan saudara pun jadi.

Kawan, kenapa sampai segitunya kita berbuat. Apa iya dunia begitu berharganya sampai kita rela mengorbankan segalanya termasuk persaudaraan kita? Jangan gampang silau dengan dunia. Apalagi sampai menukar hubungan darah yang berharga demi ambisi kita yang nggak bakal ada habisnya di dunia ini? apakah kita nggak khawatir jika dengan konflik yang kita buat, hal itu bisa membuat sakit saudara kita, bahkan putusnya hubungan silaturahim, sedangkan kita tahu bahwa silaturahim membawa banyak kebahagiaan untuk kita? Seperti yang telah dipesankan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi]

Lupa memang jadi sifat manusia, tapi jangan sampai rasa lalai dan lupa itu terus menerus kita pelihara, sampai akhirnya berujung penyesalan yang sangat ketika nanti kita mengingat kejadian itu kembali. Jangan jerumuskan diri kita sendiri pada perbuatan yang akan kita tangisi sendiri di sisa umur kita. Apalagi jika hal itu menyangkut hubungan dengan saudara kita.

Karena seperti sebuah paku yang sudah tertancap, walaupun paku itu bisa kita tarik kembali, tapi tetap saja bekasnya akan ada dan terlihat. Begitu pula dengan acar konflik yang kita buat dengan saudara-saudara kita.

Hidup hanya sekali kawan, jangan sampai kita salah menitik beratkan fokus kita pada sesuatu dan atau memilih sebuah sikap yang akan jadi sejarah hidup kita nanti. Karena jika sudah begitu, nggak ada yang lain yang bakal sedih kecuali diri kita sendiri. Ya, nggak sih?

 

(NayMa)



RELATED ARTICLE