Cantik dan Masuk Surga, Wanita Mana Sih Yang Ga Mau? | DiaryHijaber.com

Writer : Chyntia Andarinie Editor : Steffi

Cantik dan Masuk Surga, Wanita Mana Sih Yang Ga Mau?

288 kali dilihat

Setiap hari, hampir semua iklan yang terpampang nyata dan tersebar luas di masyarakat menyajikan sosok perempuan cantik dengan standarisasi yang serupa. Cantik itu berkulit putih, bertubuh langsing, berhidung mancung, beralis tebal, berbibir merah, berbulu mata lentik dan aneka streotip cantik lainnya . Tak heran jika banyak wanita yang merasa kurang percaya diri terhadap tubuhnya. Padahal, makna kecantikan tidak semata-mata tentang penampilan fisik. Cantik itu bukan tentang warna kulit, tubuh langsing, badan tinggi semampai. Melebihi itu semua, dalam Islam, kecantikan hakiki adalah cerminan dari keindahan hati yang senantiasa dirawat dengan amalan-amalan shalih.

 

Percayalah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah menciptakan manusia dengan masing-masing kekurangan dan kelebihan yang seharusnya kita syukuri.  Jika kita terus membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain yang kita anggap ‘lebih cantik’ maka itu sama saja dengan tidak bersyukur atas ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 

Perlu kita ingat bahwa tidak ada manusia yang sempurna karena segala kesempurnaan hanyalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebagai wanita yang menyukai keindahan, wajar jika kita ingin berdandan sesekali. Apalagi di tengah derasnya arus informasi diskon produk kecantikan yang tak jarang menggoyahkan hati untuk membelinya dengan dalih “Ah, mumpung harganya murah nih! Besok udah balik ke harga normal!”. Godaan tersebut tentunya seringkali menghampiri dan kita harus mampu membentengi diri dengan ilmu agama yang baik. Jangan terlena dan menjadikan berdandan sebagai keharusan, karena akan berujung pada sifat boros yang dibenci Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an:

 

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan sesungguhnya  (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqon: 67)

 

“Dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”  (QS. Al-‘Arof: 31)

 

Godaan syaitan zaman now, datang dengan berbagai cara. Iklan di televisi, postingan selebgram di media sosial, artikel kecantikan yang dapat diakses dengan mudah, bahkan orbrolan iseng dengan teman sendiri dapat disusupi oleh syaitan. Sadar atau tidak, otak kita terus disuntikkan informasi tentang konsepsi ‘cantik’ yang perlahan-lahan mengubah pola pikir dan berimbas pada sifat tabarruj.

 

Imam asy-Syaukani berkata, “At-Tabarruj adalah dengan seorang wanita menampakkan sebagian dari perhiasan dan kecantikannya yang (seharusnya) wajib untuk ditutupinya, yang mana dapat memancing syahwat (hasrat) laki-laki”

 

Sebagai wanita muslimah, kita harus menjaga diri agar jangan sampai penampilan kita yang dikonotasikan dengan kata ‘cantik’ justru membangkitkan syahwat lawan jenis. Hal itu akan menjadi awal dosa besar yang menggiring kita menuju api neraka jahannam. Sungguh, jangan sampai hal itu terjadi. Kecuali jika pria tersebut sudah sah menjadi suami kita, maka berdandan dan tampil menarik di hadapannya adalah sebuah wujud kewajiban seorang istri  terhadap pasangan.

 

Kita harus mencintai diri kita sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala mencintai kita dan memberikan rezeki serta rahmat yang tak habis-habis. Wujud syukur kita bisa ditunjukkan dengan cara tidak mengubah ciptaan-Nya. Dalam Islam, kita dilarang untuk melakukan cukur alis, sulam bibir, mengikir gigi, memakai parfume yang berlebihan, serta menyambung rambut. Untuk tampil ‘ideal’ di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita tidak perlu melakukan hal tersebut. Sebagaimana yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim sebagai berikut:

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat orang yang menato dan wanita yang minta ditato, wanita yang menyambung rambutnya (dengan rambut palsu), yang mencukur alis dan yang minta dicukur, serta wanita yang meregangkan (mengikir) giginya untuk kecantikan, yang merubah ciptaan Allah.”

 

Kamu cantik! Ya, kamu yang sedang membaca ini. Kamu yang kulit wajahnya lembut karena selalu terbasuh air wudhu. Kamu yang bibirnya selalu melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan suaranya merdu menenangkan hati orang-orang yang mendengar. Kamu yang kemanapun pergi selalu menyembunyikan aurat di balik kerudung panjang yang menjuntai. Kamu cantik, jika waktumu di dunia yang singkat ini selalu dimanfaatkan untuk mengerjakan perintah Allah Subhanaahu Wa Ta’ala dan menjauhi segala larangan-Nya.

 

Ibnu Katsir berkata: “Sesungguhnya amal kebaikan itu akan memancarkan cahaya di dalam hati, membersitkan sinar pada wajah, kekuatan pada tubuh, kelimpahan dalam rizki dan menumbuhkan rasa cinta di hati manusia kepadanya. Sesungguhnya amal kejahatan itu akan menggelapkan hati, menyuramkan wajah, melemahkan badan, mengurangkan rizki dan menimbulkan rasa benci di hati manusia kepadanya.”

 

Hidup di dunia ini hanyalah sebuah persinggahan sementara menuju akhirat yang kekal. Kita semua kelak akan mati, meninggalkan segala harta benda yang kita miliki dan tidak membawa satupun kecuali amalan-amalan ibadah. Kecantikan paras di dunia ini hanyalah kefanaan, sementara kecantikan hati akan menyertai hingga akhir. Mari kita berlomba-lomba mempercantik diri dengan cara melakukan amal ibadah yang disukai Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jangan sampai kita sibuk berusaha tampil cantik di dunia sementara ga cukup cantik untuk diijinkan melangkah ke surga ya, girls.


Artikel Terkait Lainnya..
Menikah Beda Agama
Jodoh Atau Ajal ?

RELATED ARTICLE