Cinta Tapi Beda | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : NayMa

Cinta Tapi Beda

310 kali dilihat

Yang namanya jatuh cinta, kadang nggak perlu pakai kenalan mau dengan siapa. Karena cinta bisa nempel ke setiap orang, bahkan yang awalnya nggak pernah kita sangka kalau kita bisa jatuh cinta kepadanya. Kalau suruh menjelaskan kenapa, kita mungkin nggak bisa. Jawabannya ya simple aja,  “gue cinta aja”. Udah. Nggak ada alasan yang lainnya.

Begitulah uniknya cinta, susah dijelaskan tapi cuma bisa dirasakan. Dan cinta itu yang buat banyak orang jadi bahagia.

Dan ketika cinta itu tumbuh pada orang yang dewasa, kebanyakan cinta itu lalu diarahkan ke hubungan yang lebih serius, yaitu pernikahan. Tapi banyak dari pasangan yang jatuh cinta, yang lantas lupa bahwa cinta saja sebenarnya nggak cukup untuk menuju sebuah hubungan yang lebih serius dan yang berlaku selamanya. Apalagi kalau cinta itu begitu buta dan menggebu-gebu.

Karena seperti kita tahu, yang instan itu biasanya juga cuma enak sebentar. Yang menggebu, jangan-jangan cuma akan berakhir seminggu.

Karena itu bagi mereka yang ingin masuk dalam gerbang pernikahan perlu mempertimbangkan tentang rasa cinta yang mereka punya, untuk benar-benar bisa jadi yang membahagiakan ketika mereka telah menikah.

Salah satunya yaitu menimbang-nimbang apakah dia dan calon pasangannya adalah yang sama, beda atau malah terlalu beda dalam banyak hal. Hal ini penting banget lho ternyata buat di kilas balik.

Memang sih nggak akan ada dua orang yang bakal sama persis dalam satu hal sekalipun. Dan juga banyak yang bilang kalau perbedaan itu indah. Tapi kenyataannya justru kalau terlalu beda,  yang ada malah seperti jurang pemisah buat mereka berdua.

Belajar dari yang terjadi pada Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dinikahkan dengan Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha. Zainab adalah wanita terpandang dan cantik, sedangkan Zaid adalah lelaki biasa yang tidak tampan. Walhasil, pernikahan mereka pun tidak berlangsung lama. Jika kasus seperti ini terjadi pada sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apalagi kita?

Kawan, faktor ketakwaan memang adalah hal yang nomor satu yang harus di utamakan dalam memilih calon pendamping kita. Tapi faktor sekufu alias sebanding dalam hal kedudukan, agama, nasab, pendidikan, status sosial dan lain sebagainya juga nggak bisa di sepelekan banget, kawan.

Contohnya real-nya deh, dengan pendidikan yang tinggi, kita akan lebih nyambung kalau bicara tentang sesuatu dengan pasangan kita yang minimal pendidikannya juga nggak jauh-jauh beda dengan kita. Kalau nggak, suasana akan jadi aneh saat kita ngobrol. Karena yang satu merasa nggak ngerti, tapi yang lain merasa harus dimengerti.

Awal-awal mungkin bisa ditoleransi, tapi bila lama kelamaan maka masalah kecil-kecil seperti ini bisa berlarut-larut dan akan seperti bom waktu yang kalau meledak pastinya juga nggak akan simple aja. 

Jadi cinta saja memang nggak cukup buat modal untuk menikah. Pemikiran dan pertimbangan yang matang tentang siapa calon pasangan kita juga harus kita lakukan demi kelanggengan sebuah rumah tangga. Walaupun memang beda, tapi jangan yang terlalu beda banget, karena hal itu justru akan jadi jurang pemisah antara kita dan pasangan kita nanti akhirnya. Pertimbangkan baik-baik, karena kitapun juga pasti mengharapkan bahwa kita menikah hanya satu kali saja seumur hidup kita, bukan?

 

(NayMa)

 



RELATED ARTICLE