Dikasari Sakit Hati, Di Halusi Lupa Diri | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : NayMa

Dikasari Sakit Hati, Di Halusi Lupa Diri

136 kali dilihat

Di dunia ini beraneka ragam sifat dan sikap manusia. Ada yang positif ada pula yang minus alias buat nggak enak di hati. Salah satunya adalah sifat keras kepala yang berduet sukses dengan rasa sensitif yang berlebihan, atau kita biasa menyebutnya dengan istilah “bandel”. Dan mereka dengan sifat ini biasanya nggak bisa dikasari sama sekali atau dia akan jadi lebih kasar dari kita. Tapi ketika mereka diperlakukan dengan halus dan santun, kadang bisa membuat mereka jadi lupa diri.  

Sikap seperti ini akan cuma buat repot diri mereka sendiri, kawan. Karena mereka akan jadi susah memperbaiki diri, karena mereka menganggap diri mereka sempurna sehingga mereka nggak pantas ditegur alias menerima teguran. Mereka juga meninggikan ego mereka karena itu mereka berpendapat bahwa mereka harus selalu diperlakukan dengan manis, walau apapun kesalahan mereka. Dan nggak lupa mereka yang bersikap seperti ini intinya adalah hanya ingin hidup dalam keadaan yang baik-baik saja dan lurus-lurus saja.

Padahal hidup nggak bisa begitu, kawan. Manusia nggak bakal ada yang sempurna. Dan ketika orang lain menegur atas ketidak sempurnaan kita, itu adalah hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah justru kita yang menganggap diri kita sempurna sehingga kita malah bersikap bandel yang akhirnya memantik orang lain buat berbuat lebih kasar kepada kita.   

Ah, hidup cuma sekali kawan. Mudahkanlah diri kita sendiri dan orang lain disekitar kita. Dan sebagai seorang muslimah yang paling pas adalah hidup yang penuh berkah dan jadi berkah untuk orang lain. Salah satunya adalah tidak memelihara sikap keras kepala, dan merasa sempurna sehingga gampang lupa diri. Seperti contoh yang diberikan oleh Rasul kita dimana beliau yang dulu jug pernah bersikap egois yaitu beliau yang memasang wajah masam saat bertemu dengan Ibnu Ummi Maktum, seorang laki-laki miskin yang buta, sehingga Allah lalu menegur beliau dengan menurunkan surat ‘Abasa  yang artinya : Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, sebab telah datang seorang buta kepadanya, tahukah kalian barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).... (Qs. ‘Abasa  : 1-4)

Setelah ayat itu turun, sadarlah Rasulullah akan kekhilafannya. Lalu segera beliau menemui Ibnu Ummi Maktum dan beliau perkenankan apa yang ia minta. Ibnu Ummi Maktum pun menjadi seorang yang sangat disayangi oleh Rasulullah.

Itulah sikap mulia yng dicontohkan beliau. Sama sekali tidak ada sikap keras kepala atau membantah apa yang ditelah difirmankan oleh Robbnya. Itulah contoh mulia yang selayaknya kita tiru. Menyadari kesalahan diri sehingga tidak memantik orang lain untuk berbuat “lebih” kepada kita. Dan akhirnya kita jdi bisa belajar tahu diri tentang segala kekurangan diri kita sendiri. Semoga kita juga bisa menerapkan pelajaran berharga itu, utamanya untuk diri kita sendiri dulu sehingga nantinya hidup kita jadi lebih berkah dan tidak menjadi beban bagi orang lain.

 

(NayMa)



RELATED ARTICLE