Do'a Orang Tua yang Mustajab | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Do'a Orang Tua yang Mustajab

365 kali dilihat

Orang tua, adalah manusia yang paling besar jasanya terhadap kehidupan kita. Ibu yang melahirkan, merawat dan membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, serta ayah yang selalu berusaha mencukupkan nafkah bagi kita anak-anaknya. Karena itu tidak mengherankan apabila doa yang mereka panjatkan entah itu berupa kebaikan ataupun keburukan tentang diri kita ini, adalah doa yang sangat mustajab.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Tidak doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa seorang musafir.” (HR. Al Baihaqi).

Karena itu, sebisa mungkin jangan sampai kita menyakiti hati orang tua kita. Kalaupun kita belum bisa membahagiakan mereka, paling tidak kita jangan membuat mereka bersedih. Agar ridho dan doa baik orang tua kita senantiasa bersama kita, dan kehidupan kitapun akan lebih baik bagi kedepannya.

Dan jika kita kini sudah menjadi orang tua, sudah selayaknya kita mendoakan anak-anak kita banyak-banyak kebaikan saja. Jangan gampang terpancing emosi lalu mengatakan sesuatu yang tidak pantas untuk dikatakan. Karena jika hal tersebut dikabulkan oleh Allah, maka anak-anak kitalah yang akan menderita. Seperti yang tercantum dalam sebuah hadist dibawah ini, tentang sebuah yang akan mengajarkan kita agar sebagai orang tua kita lebih bijaksana dalam berkata-kata dan mendoakan anak-anak kita. 

Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada bayi yang dapat berbicara dalam buaian kecuali Isa bin Maryam dan Juraij.” Lalu ada yang bertanya, ”Wahai Rasulullah siapakah Juraij?”. Beliau lalu bersabda, ”Juraij adalah seorang rahib yang berdiam diri pada rumah peribadatannya (yang terletak di dataran tinggi/gunung). Di sana juga terdapat seorang penggembala yang menggembalakan sapinya di lereng gunung tempat peribadatannya dan seorang wanita dari suatu desa menemui penggembala itu (untuk berbuat mesum dengannya)."

(Suatu ketika) datanglah ibu Juraij dan memanggilnya ketika ia sedang melaksanakan shalat, ”Wahai Juraij.” Juraij lalu bertanya dalam hatinya, ”Apakah aku harus memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan salatku?” Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya lalu memanggil untuk yang kedua kalinya.  Juraij kembali bertanya di dalam hati, ”Ibuku atau salatku?” Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya memanggil untuk kali ketiga. Juraij bertanya lagi dalam hatinya, ”lbuku atau salatku?” Rupanya dia tetap mengutamakan shalatnya. Ketika sudah tidak menjawab panggilan, ibunya berkata,

Wanita yang menemui penggembala tadi dibawa menghadap raja dalam keadaan telah melahirkan seorang anak. Raja itu bertanya kepada wanita tersebut, ”Hasil dari (hubungan dengan) siapa (anak ini)?” “Dari Juraij?”, jawab wanita itu. Raja lalu bertanya lagi, “Apakah dia yang tinggal di tempat peribadatan itu?” “Benar”, jawab wanita itu. Raja berkata, ”Hancurkan rumah peribadatannya dan bawa dia kemari.” Orang-orang lalu menghancurkan tempat peribadatannya dengan kapak sampai rata dan mengikatkan tangannya di lehernya dengan tali lalu membawanya menghadap raja. Di tengah perjalanan Juraij dilewatkan di hadapan para pelacur. Ketika melihatnya Juraij tersenyum dan para pelacur tersebut melihat Juraij yang berada di antara manusia.

Raja lalu bertanya padanya, “Siapa ini menurutmu?”. Juraij balik bertanya, “Siapa yang engkau maksud?” Raja berkata, “Dia (wanita tadi) berkata bahwa anaknya adalah hasil hubungan denganmu.” Juraij bertanya, “Apakah engkau telah berkata begitu?” “Benar”, jawab wanita itu. Juraij lalu bertanya, ”Di mana bayi itu?” Orang-orang lalu menjawab, “(Itu) di pangkuan (ibu)nya.” Juraij lalu menemuinya dan bertanya pada bayi itu, ”Siapa ayahmu?” Bayi itu menjawab, “Ayahku si penggembala sapi.”

Kontan sang raja berkata, “Apakah perlu kami bangun kembali rumah ibadahmu dengan bahan dari emas.” Juraij menjawab, “Tidak perlu”. “Ataukah dari perak?” lanjut sang raja. “Jangan”, jawab Juraij. “Lalu dari apa kami akan bangun rumah ibadahmu?”, tanya sang raja. Juraij menjawab, “Bangunlah seperti semula.” Raja lalu bertanya, “Mengapa engkau tersenyum?” Juraij menjawab, “(Saya tertawa) karena suatu perkara yang telah aku ketahui, yaitu terkabulnya do’a ibuku terhadap diriku.” Kemudian Juraij pun memberitahukan hal itu kepada mereka. (Hr. Al Bukhari).



RELATED ARTICLE