Dosa Kecilmu, Bom Waktumu | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : NayMa

Dosa Kecilmu, Bom Waktumu

255 kali dilihat

Setiap detik bagi kita adalah dosa dan pahala. Dan mana yang akan jadi milik kita semua tergantung pilihan diri kita sendiri. Ada dari kita yang setiap saat berakrab dengan pahala. Tapi juga ada yang lebih menyibukkan diri dengan dosa dan kesalahan.

Dan untuk yang satu ini, ada dari kita yang berkata “Bukankah Allah Maha Pemaaf dan Maha Penyayang?”. Lalu dengan santainya kita lalu melakukan dosa besar dan menyepelekan dosa kecil. Padahal tidak ada sesuatu yang kecil kalau dilakukan terus menerus. Seperti sebuah peribahasa “sedikit-sedikit, lama-lama jadi bukit”.

Dulu, Rasul dan para sahabat selalu berhati-hati dalam setiap langkah dihidup mereka. Mereka bahkan nggak berani "bermain-main" dengan dosa kecil sekalipun. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya kalian mengerjakan amalan (dosa) di hadapan mata kalian tipis seperti rambut, namun kami (para sahabat) yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap dosa semacam itu seperti dosa besar.”

Kawan, manusia memang tidak pernah lepas dari dosa, namun bukan berarti manusia bisa menyepelekan dosa, atau menganggap remeh semua itu. Jika tidak maka semua akan menjadi sebuah bom waktu, dimana ketika bom itu meledak maka bisa dipastikan bahwa kita tidak akan lagi baik-baik saja.

Maka jangan pernah menyepelekan kesalahan sekecil apapun dari yang kita lakukan dengan alasan “Mumpung Allah Maha Penyayang”. Bahkan Allah juga bisa murka kalau kita terus menerus berbuat durhaka.

Kawan, jangan sampai kita biarkan diri kita terbiasa dengan maksiat, karena kebiasaan itu akan jadi sifat dan sifat itu akan menjadi jati diri kita. Bila sudah begitu maka diri kita sendiri yang sukses merendahkan diri kita sendiri, karena berhasil melabeli diri kita dengan “ahli maksiat”, yang pastinya bakal mati rasa dengan dosa karena sudah saking seringnya melakukan kejahatan.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya”. 

Kawan, ada baiknya kita mendengarkan nasehat dari Bilal bin Sa’ad rahimahullah, “Janganlah engkau melihat kecilnya suatu dosa, namun hendaklah engkau melihat siapa yang engkau durhakai.”

Jika kita memang benar-benar mencintai Allah, maka kita setiap saat akan ingin berbuat baik karenaNya. Kalau kita benar-benar mencintai Allah, kita nggak akan melihat kecilnya dosa itu apalagi sampai menyepelekannya. Tapi kita akan berpikir bahwa kita telah mendurhakai Allah, Robb kita.

Jadi, apakah kita benar-benar mencintai Allah?

 

(NayMa)



RELATED ARTICLE