Hati yang Mati, Kita yang Rugi | DiaryHijaber.com

Writer : Someone Editor : Someone

Hati yang Mati, Kita yang Rugi

505 kali dilihat

Hati hanya ada satu. Dan ketika telah terisi banyak oleh sesuatu, dia akan condong kepadanya. Selanjutnya tubuh pun akan hanya mengikuti alurnya. Lihatlah bagaimana orang yang hatinya dipenuhi cinta dunia. Fisiknya pun seperti hanya menerima perintah. Siang malam mereka hanya menumpuk harta. Tanpa mengenal lelah mereka menghabiskan sisa hidup hanya demi satu tujuan. Materi dan kesenangan dunia. 


Namun sayang, hati manusia tidak akan kenyang hanya dengan harta. Semakin dia mendapatkan lebih banyak, maka dia akan semakin lapar, lapar, kurang dan kurang. Dan ketika manusia itu telah berada di puncak pencapaian dunianya, hatinya akan semakin mengeras, linglung dan bingung. 

Mengapa bisa begitu? Karena hati tahu dimana jalurnya yang seharusnya. Cinta dunia yang berlebihan yang manusia lekatkan dengan hati mereka, pada fitrahnya TIDAK akan membuat hati mereka damai. Karena, "... Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Qs. ar-Ra’du: 28)

Hati jalurnya adalah lekat kepada Allah. Karena dia adalah satu- satunya alarm manusia yang tidak bisa dimanipulasi. Dia berkata jujur, berpendapat jujur dan senantiasa bicara jujur kepada kita, walau bagaimanapun manusia itu mencoba berbohong.

Mereka yang lelah, linglung dan bingung dengan kehidupan mereka, sudah seharusnyalah menyerah pada apa kata hati nuraninya saja. Karena semakin kita menyangkal, yang ada kenyataan yang kita hadapi akan semakin rumit dan panjang. Dan satu hal yang tak kalah penting, rawatlah hati kita setiap hari dengan dzikir kepada Allah. Dengan begitu, hati kita akan mudah melembut dan gampang menerima dan mendengar kebaikan.

Sebaliknya, jika kita jauh dari Allah, dan atau malah sibuk melekatkan hati dengan apapun selain Allah, maka hati pun akan rusak, dan mengeras. Kalau sudah begitu, hati tidak akan berdaya lagi dalam menunjukkan kepada kita tentang kebaikan. Selanjutnya fisik kitapun akan ikut ikutan amburadul, dan akhirnya hidup kita akan makin kacau. Sungguh sangat merugilah kita. 

"Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang hatinya keras)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allâh. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." (az-Zumar/39:22)

Dan ketika semua itu terus dan terus kita lakukan, hati kita akan mati dan mati rasa terhadap kebenaran. 

Sesungguhnya orang-orang kafir itu, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa amat berat.” (Surat Al Baqarah : 6-7)

Petunjuk apapun bagi mereka yang hatinya telah mati, adalah percuma. Inilah akibat dari membiarkan hati dan diri kita sibuk dengan apapun selain pada kebaikan untuk menuju Allah, untuk mengingat Allah. 
Sungguh, kemudian bukanlah orang lain apalagi Allah yang akan merugi, tapi justru diri kita sendiri. Apa gunanya hidup tanpa petunjuk Allah. Apa gunanya hidup jika harus jadi orang jahat. Apa gunanya hidup jika hanya akan berakhir menjadi bahan bakar neraka. Maka dari itu Hijabers, marilah kita bersama mendekatkan diri kepada Allah agar hati kita tentram dan pelan-pelan memahami arti hidup yang sebenarnya.





Writer : Ratna P Sari

Editor : BL



RELATED ARTICLE