Iman dan Harta, Dapatkah Sebanding? | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Iman dan Harta, Dapatkah Sebanding?

312 kali dilihat

Di dunia ini, semua orang pasti menginginkan menjadi orang kaya. Karena dengan banyaknya harta, mereka akan mendapatkan kemudahan serta kenyamanan hidup. Selain itu, dengan harta mereka bisa merasakan kedamaian dan ketenangan hidup yang lebih. Tetapi apakah selalunya seperti itu itu? Lalu bagaimana dengan banyaknya kasus orang kaya yang malah merasa sengsara hidupnya, hatinya kosong, dan hidupnya hambar?

Ternyata letak kedamaian yang mereka harapkan sebenarnya bukan pada banyaknya harta serta jumlah kekayaan yang terhitung dalam kalkulator mereka. Karena manusiawinya, semakin besar harta terkumpul, maka kepuasan itu akan selangkah lebih jauh dari batin mereka.  Ibnu ‘Abbas, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi dalam perut manusia hanyalah tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat. (HR. Bukhari). Itulah sabda yang diberikan oleh Muhammad SAW,  sang utusan Allah SWT.

Karena itulah, kaya harta saja tidak akan cukup membuat manusia bahagia, bila si manusia tersebut tidak kaya hati, atau pandai bersyukur serta berbagi dengan yang membutuhkan. Sejarah telah mencatat bagaimana nasib tragis Firaun dan Qarun yang begitu sangat kaya, namun hatinya kosong dan jauh dari Allah. Jadilah harta kekayaan mereka itu malah membinasakan dan menyesatkan mereka sejauh- jauhnya dari Allah Ta’ala.

Hijabers, karena itulah penting bagi kita untuk mengingat sebuah nasehat berharga dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut yang beliau berikan juga kepada sahabat beliau Abu Dzar. Semoga hal ini juga selalu menjadi pengingat bagi kita agar lebih belajar untuk kaya hati, dan tidak sekedar kaya dalam tumpukan harta dunia saja.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas). (HR. Ibnu Hibban)



RELATED ARTICLE