Inilah Alasan Kenapa Kita Nggak Boleh Menasehati Seseorang Terang-Terangan Di Depan Banyak Orang | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : NayMa

Inilah Alasan Kenapa Kita Nggak Boleh Menasehati Seseorang Terang-Terangan Di Depan Banyak Orang

194 kali dilihat

Kadang kita merasa “gatal” aja saat ada orang yang sengaja atau nggak sengaja melakukan maksiat di depan kita. Hati kitapun alu tergerak buat bisa meluruskan apa yang sedang orang tersebut lakukan.

Tapi walaupun orang tersebut melakukan kesalahan, kita yang berniat meluruskan haruslah tetap menggunakan akhlak yang indah dan sopan santun dalam meluruskannya. Dan Islam mengajarkan kepada kita tentang pentingnya hal tersebut.

Seperti yang dilakukan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam kepada Mu’awiyah bin Hakam. Dia yang saat itu mengucapkan “Yarhamukallah” ketika mendengar ada orang yang bersin, namun posisinya masih di dalam sholat. Saat itu pengetahuan yang diketahuinya memang barulah sebatas itu, bahwa apabila seseorang bersin dengan mengucapkan Alhamdulillah. Semua orang saat itu tiba-tiba melirik dengan marah ke arahnya. Dan Mu’awiyah membalas perlakuan mereka dengan berkata, “Mengapa kalian marah kepadaku?”.

 Setelah shalat selesai, Rasul lalu memanggil Mu’awiyah. Beliau sama sekali tidak memukul, menghardik atau berlaku kasar kepadanya. Beliau hanya bersabda, “Tidak boleh berbicara dalam shalat. Shalat adalah untuk memuji kebesaran Allah, menganggungkan-Nya dan membaca Al-Qur’an.”

Mu’awiyah merasa kagum karena merasa belum pernah menjumpai seorang guru yang begitu penyayang seperti baginda Rasulullah SAW.

Al Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Apabila para salaf hendak memberikan nasehat kepada seseorang, maka mereka menasehatinya secara rahasia… Barangsiapa yang menasehati saudaranya berduaan saja maka itulah nasehat. Dan barangsiapa yang menasehatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.”

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah juga menyebutkan dalam sya’ir beliau,

“Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri. Jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian. Sesungguhnya nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk sesuatu. Pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya. Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku. Maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti”

Kawan, sebuah nasehat seharusnya adalah ibarat hadiah yang indah bagi penerimanya. Jadi agar si penerima juga senang hati, maka kitappun harus menyampaikannya dengan kesopanan. Salah satunya adalah tidak menasehati orang tersebut di muka umum.

Memberikan nasehat adalah juga demi perbaikan, dan bukan justru menguliti saudara kita yang lain atas sebuah kesalahan yang kadang dia sendiri nggak menyadari. Kitapun jika ada posisinya juga pasti ingin diingatkan dengan cara yang indah dan yang bisa diterima sehingga kita kita legowo untuk menerima kesalahan dan lalu berubah menjadi lebih baik. Bukan begitu, bukan? Lalu mengapa kita yang ingin menasehati justru nggak bisa menahan diri dari mengumbar aib dan kesalahan saudara kita di hadapan orang banyak?

 

(NayMa)



RELATED ARTICLE