Iri, Nih Yee! | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : NayMa

Iri, Nih Yee!

220 kali dilihat

Yang namanya iri sama apapun kelebihan yang dimiliki oleh orang lain, pasti sedikit banyak pernah kita rasakan. Wajarlah, karena setiap orang pasti juga mendambakan sebuah kenyamanan dalam semua hal dihidup mereka.

Tapi tahu nggak sih kawan, kalau kita melihat lebih dalam pada kehidupan seseorang yang kita merasa iri tersebut, ternyata kebanyakan justru acara iri kita bakal batal loh. Secara kita akan mengetahui kalau ternyata dia juga manusia biasa yang punya kekurangan, yang mungkin nggak bisa kita bayangkan sebelumnya. Dan bisa jadi, justru dia yang kita iri itu, yang sedang iri juga sama kita sekarang. Contoh nih, kita iri dengan seseorang yang udah ketemu jodoh alias nikah duluan. Rasanya enak aja udah ada yang jagain dia seumur hidup. Padahal ternyata si cewek itu juga iri ke kita. Karena setelah dia nikah otomatis dia punya kewajiban baru sebagai seorang istri. Dia nggak sebebas yang dulu dan yang memang kudu luangkan waktu buat mengurus suami dan anak-anaknya. Dia sendiri kadang membutuhkan “me time” atau waktu buat sekedar happy dengan dirinya sendiri seperti yang kita miliki sekarang.

Jadi intinya pemirsa, semua orang udah dengan pas di ukur oleh Allah buat diberikan kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri dalam hidup mereka.

Maka asyiknya memang kalau kita merasa happy dan puas dengan apa yang kita miliki sekarang ini. Dan kalau kita mau mengejar sesuatu yang lebih, kita nggak perlu pakai acara iri. Yang ada malah kita cukup jadikan orang yang kita anggap lebih itu sebagai semangat bahwa kitapun bisa loh mendapat pencapaian seperti dia.

Rasa iri yang disimpan terus menurus hanya akan membuat hati kita berpenyakit. Persis banget seperti kisah saudara-saudara Nabi Yusuf yang iri ke Nabi Yusuf dulu tuh. Mereka yang punya penyakit iri begitu besar, akhirnya tega melakukan banyak kecurangan demi “menyingkirkan” Nabi Yusuf. Bahkan sampai memasukkan beliau ke dalam sumur pun dilakukan juga. “hebat” nggak tuh?

Tapi akhirnya happy ending justru kejadian di Nabi Yusuf sendiri kan? Karena beliau tetap ikhlas dan nggak punya dendam ke saudara-saudaranya itu. Allah malah memulyakan beliau dan mengangkat derajat beliau.  

Belajar dari kisah itu kawan, maka mau nggak mau kita memang kudu belajar buat mendidik diri kita buat menghilangkan rasa iri di hati. Secara, semua rasa itu hanya akan membuat kita fokus sama kelebihan orang dan atau membayangkan sesuatu yang enak-enak aja di orang lain itu, sambil bilang “duh, coba aku bisa seperti dia”. Dengan begitu kita sukses banget buat melupakan banyaknya nikmat Allah yang lain, yang sebenarnya udah nempel di diri kita. Hari-hari kita akan kita habiskan buat ngeluh, dan cuma menghitung kekurangan yang ada di diri kita aja. Dan begitu kita sadar, kita malah udah terlanjur kehilangan banyak waktu dan kita malah makin jauh ketinggalan dari dia yang kita iri itu.

Jadi, dari pada kita sibuk melihat kehidupan orang lain yang buat kita “serba gemerlap”, maka lebih baik kita benahi apa yang kurang dalam diri kita sendiri aja. Biarkan orang lain dengan kehidupan mereka, berikut kekurangan dan kelebihannya. Mereka sibuk dengan hidup mereka, dan catatan amal mereka sendiri. Dan buat kita, dari pada sekedar merasa iri karena ini itu yang ada di diri mereka, mending kita balik nanya ke diri kita sendiri, “hey bagaimana kehidupanku, dan apa kabar catatan amalku?”.    

 

(NayMa)



RELATED ARTICLE