Kaya Harta VS Kaya Hati, Pilihmanakah Anda? | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Kaya Harta VS Kaya Hati, Pilihmanakah Anda?

531 kali dilihat

Banyak orang bilang, dengan harta hidup akan lebih mudah. Karena di zaman sekarang ini, banyak urusan yang akan berjalan lebih lancar bila semua diatasi dengan harta. Hal itu tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak seratus persen benar. Karena pada prakteknya, harta justru menjadi penjara hati bagi mereka yang selalu merasa tidak pernah puas terhadapnya.

Hari-hari orang tersebut hanya akan disibukkan untuk menimbun dan menambah harta saja. Jangan tanya apakah dia bisa menikmati, sekeras dia berusaha mengumpulkan harta tersebut. Kadang malah tidak. Bahkan telah banyak yang terjadi dimana kematian justru malah dahulu menjemputnya sebelum dia bisa mencicipi semua hasil kerja kerasnya tersebut.

Ternyata, menjadi kaya harta saja tidak cukup membahagiakan bila kita juga tidak kaya hati atau merasa puas dan cukup dengan yang telah kita miliki. Karena sudah menjadi sifat manusia yang memang tidak pernah akan merasa puas dan cukup terhadap apa yang telah mereka dapatkan selama ini. Ibnu Az Zubair dalam sebuah khutbahnya, pernah berkata, Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah. Allah tentu menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat. (HR. Bukhari).

Hijabers, orang yang kaya harta belum tentu kaya hati. Namun orang yang kaya hati, walaupun dia tidak kaya harta, tapi dia lah yang lebih mulia. Bagaimana tidak, dengan sedikit harta yang dimilikinya saja, dia masih mampu dan mau berbagi serta tahu bagaimana berterimakasih kepada tuhannya. Apalagi ketika suatu saat Allah berkenan memberikan harta lebih kepadanya. InshaAllah akan lebih banyak amal kebaikan pula yang akan dilakukannya.

Orang yang hanya kaya hati juga akan lebih gampang bersyukur. Jika dia miskin, dia tetap menjalaninya dengan bahagia, dan jika dia kaya maka kekayaan itu tidak akan melekat dihatinya, melainkan hanya sekedar “tempelan” dan titipan dari Allah saja. Dia sangat mengerti makna dari kekayaan yang sesungguhnya dan cara menemukan kebahagiaan sejati dari kekayaan yang dimilikinya tersebut. Dia pun mengerti jika kekayaan materi yang dilekatkan di jiwa, hanya akan membuatnya semakin rakus, semakin haus dan tidak akan ada habisnya.

Maka  benarlah apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.(HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah memberikan sebuah nasehat mulia kepada sahabat Abu Dzar.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas). (HR. Ibnu Hibban).

Karena itulah Hijabers, sifat kaya hati haruslah kita pupuk sebagai yang pertama sebelum InshaAllah nanti kita diijinkan oleh Allah untuk menjadi orang yang kaya harta. Karena menjadi kaya saja akan percuma, dan malah akan menjerumuskan diri kita sendiri bila kita tidak melengkapi diri dengan sifat yang mulia, salah satunya adalah lewat menjadi pribadi yang kaya hatinya.

Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina”

(Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf (menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan) dan ghina (hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia).



RELATED ARTICLE