Kebenaran Ta'aruf Tanpa Cinta | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna Editor : BL

Kebenaran Ta'aruf Tanpa Cinta

450 kali dilihat

Ada yang bilang jika cinta itu tidak bisa dipaksakan. Datang tak dijemput, pulang tak diantar, tidak memandang siapa dan dimana, cinta datang tiba-tiba saja. Dia menghapuskan batas serta jarak antara dua orang manusia dan menyempurnakan ketidaksempurnaan mereka. Jika bukan karena cinta, cela manusia akan sangat terlihat oleh manusia yang lainnya.  

Islam sangat mengerti akan hal ini. Apalagi tentang pentingnya cinta dalam rumah tangga. Cinta ibarat poros kehidupan dan menu utama. Ketika rumah tangga kehilangan cinta, maka suami istri akan merasakan kehidupan yang gersang dari kasih sayang, kelembutan, ketenangan, dan ketentraman. Bahkan, hubungan keduanyapun akan dipenuhi dengan kekakuan. Selain itu, perselisihan pasti terjadi, karena tidak adanya rasa saling “maklum” yang berlandaskan cinta tadi.  

Sebagian orang berpendapat, lalu bagaimana bisa mendapatkan cinta itu jika proses menuju pernikahan itu adalah melalui sebuah ta’aruf dan bukan pacaran dengan durasi waktu yang lama? Apakah mungkin cinta itu akan ada diantara suami dan istri tersebut?

Allah Subhanahu Wata’ala telah berjanji di dalam Al Quran, (yang artinya),

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum: 21).

Allah yang memberikan aturan ta’aruf guna menjaga kesucian dan kehormatan seorang muslim dan muslimah sebelum mereka terhalalkan dalam ikatan rumah tangga. Dan Allah adalah yang paling paham kebutuhan hamba- hambanya, serta tidak akan menganiyaya mereka. Cinta itu akan datang, walaupun mungkin seseorang harus bertemu dengan “orang asing” dalam hidupnya dalam proses ta’aruf dan bukan pacaran tersebut. Karena ketika keduanya telah berada dalam takdir jodoh yang ditentukan Allah, dan keduanya juga telah sama-sama sepakat, serta satu visi bahwa pernikahan tersebut adalah tujuannya mengabdi kepada Allah dan saling bekerjasama demi menjadi hamba Allah yang lebih baik, Allah tidak mungkin tidak menumbuhkan cinta diantara keduanya.

Rasulullah SAW juga mengajarkan, “Apabila salah seorang dari kamu meminang seorang wanita maka tidaklah dosa atasnya untuk melihatnya, jika melihatnya itu untuk meminang, meskipun wanita itu tidak melihatnya.” (HR. Imam Ahmad).

Ajaran Rasulullah SAW ini juga sangat manusiawinya, yaitu demi memupuk cinta ketika nanti telah memasuki kehidupan rumah tangga. Karena itu, jangan khawatir tentang tidak hadirnya cinta dalam kehidupan rumah tangga nanti jika kita harus mengawalinya dengan proses ta’aruf.  

Hijabers, kadang susah bagi kita untuk membedakan mana cinta sesaat atau nafsu, dan yang mana cinta abadi. Cinta sesaat biasanya dilandasi oleh kekaguman, bahkan perasaan ego untuk memiliki. Dia bisa saja datang dan pergi dalam waktu cepat, jika mungkin kita melihat ada sedikit kekurangan dari orang yang kita cintai. Cinta itu akhirnya akan berganti dengan rasa jenuh dan bosan. Namun cinta sejati itu memiliki makna yang lebih mendalam. Cinta sejati kadang tidak datang diawal, namun dia datang karena sebuah proses yang panjang sebuah perjuangan, pengorbanan, pengertian, pengabdian, dan lain-lain. Cinta sejati inilah justru yang lebih kekal dan abadi. Dia bahkan tetap ada walaupun jasad sang kekasih telah tiada. Hal inilah yang akan kita dapati setelah pernikahan walaupun prosesnya adalah melalui ta’aruf dan bukan pacaran.  Wallahu’alam.



RELATED ARTICLE