Ketika Allah Telah Menyelamatkan Kita | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : NayMa

Ketika Allah Telah Menyelamatkan Kita

277 kali dilihat

Namanya hidup nggak selalunya senang-senang selalu. Kadang ada kalanya kita berhadapan dengan kondisi nggak enak, dan kita nggak punya pilihan lain selain berkubang dalam keadaan itu. Sekali dua kali manusia disekitar kita mungkin bisa menolong. Tapi akhirnya manusia punya batas untuk menolong. Dan itu wajar sekali.  Dan kita nggak boleh protes atau marah atas tindakan mereka itu. Karena toh setiap manusia memiliki kepentingan sendiri dan urusan sendiri yang harus diselesaikan.

Akhirnya kitapun "berlari" menuju kepada Allah. Hanya Dia lah satu-satunya yang kita berharap buat bisa pertolongan. Kitapun lalu berdoa dengan khusuk sambil berharap bahwa Dia akan mengentaskan kita dari masalah yang kita hadapi saat itu.

Tapi...

Sayangnya begitu Allah “turun tangan” dan benar-benar menolong, inilah yang terjadi di banyak dari kita.  Kita jadi gampang lupa buat mengingat bahwa Allah adalah yang bantu kita waktu kita dulu susah. Kita malah asyik- asyik maksiat lagi di hadapan Allah setelah keadaan kita membaik. Nggak sekali dua kali kesalahan ini kita lakukan. Dan ketika kita dalam masalah lagi, kita akan lari ke Allah lagi, dan lalu selanjutnya kita lupa lagi dan atau maksiat lagi kepadaNya, setelah kita nyaman dan selesai masalah kita. Begitu saja seterusnya.

Astaghfirullah...

Kawan, tahukah kita kalau sifat yang seperti ini ternyata sudah ada dari jaman dulu kala? Bahkan yang begini juga tertulis dalam Al quran yang mulia. Allah Ta’ala berfirman, (yang artinya), "Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)." (QS. Al-Ankabut: 65)

Di ayat ini Allah mengabarkan tentang kaum musyrikin waktu mereka berada dalam kesulitan, yaitu berada di atas bahtera yang diterjang badai dan ombak menggunung yang hampir-hampir menenggelamkan kapal mereka. Saat itu mereka takut sekali akan tenggelam dan mati. Maka segera saja mereka berdoa kepada Allah Maha Kuasa.  

Tapi ketika Allah sudah menyelamatkan mereka dan hilanglah kesulitan dan ketakutan dari diri mereka itu, mereka seperti sama sekali lupa alias amnesia, kalau dulu mereka begitu memohon kepada Allah, agar bisa diselamatkan dan tetap hidup damai sentosa. Mereka kembali ke acara menyekutukan-Nya, dan ingkar kepada-Nya. 

Kalau sudah tahu seperti ini, apakah kita  juga akan mencontoh seperti mereka, kawan? Apakah kualitas "rasa terimakasih" kita juga sama dengan mereka? Jawaban pastinya kembali kepada diri kita masing-masing, kawan. Jawab jujur dari nurani terdalam kita masing-masing.

 

(NayMa)



RELATED ARTICLE