Ketika Seorang Muslim Bekerja | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : NayMa

Ketika Seorang Muslim Bekerja

137 kali dilihat

kita sebagai manusia punya banyak kebutuhan dalam hidup kita. Maka dari itu kita lalu mengusahakan untuk memenuhi semua itu dengan bekerja.

Nggak ada cerita kalau seorang mukmin itu hanya bisa menggantungkan hidupnya pada orang lain. Bahkan para Nabi dahulupun bekerja. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ketika muda dulu bekerja berdagang, Nabi Daud dulu juga bekerja membuat baju besi, Nabi Nuh bekerja membuat kapal atau bahtera, dan lain sebagainya. Mereka semua bekerja. Nggak ada yang berpangku tangan, dan hanya sekedar berdoa saja lalu rejeki itu jatuh dari langit.

Dengan bekerja kita memang bisa mendapatkan materi. Tapi kita sebagai seorang muslim, nggak bekerja hanya sekedar buat cari materi. Kita menjalankan pekerjaan kita sebagai bagian dari ibadah yang kita lakukan kepada Allah. Maka dari itu, konsep akhir kita bukan hanya sekedar uang, melainkan ridho Allah.

Jadi nggak perlu juga kita pakai acara “mencari muka” pada atasan. Yang ada kita berusaha mencari ridho Allah saja. Dan akhirnya dengan niat seperti itulah yang membuat kita lalu nggak akan berani bekerja dengan cuma setengah hati, karena kitapun jadi khawatir karena Allah senantiasa mengawasi pekerjaan kita. Allah nggak suka kalau kita menyia-nyiakan amanah, Allah nggak suka kalau kita nggak serius di pekerjaan kita. Allah nggak suka kalau kita mengecewakan orang lain karena kita menganggap enteng pekerjaan kita, dan lain sebagainya. Itulah yang dikhawatirkan oleh kita yang seorang muslim dalam bekerja, yang lebih dari sekedar khawatir kalau kita nggak bisa terima gaji setiap bulannya.

Ketika hasil kerja kita dihargai baik oleh orang lain atau pun nggak itu juga nggak jadi masalah, karena kita bukan bekerja buat mendapatkan pujian mereka, melainkan cari pahala dari Allah saja. Hati kita tetap bahagia, mood kita tetap tersetting asyik selalu buat bekerja. Itulah enaknya kalau kita hanya menggantungkan semuanya hanya kepada Allah saja, dan bukan pada mahkluknya.  

Ketika kita berhasil dalam pekerjaan, juga nggak lantas membuat kita sombong dan tinggi hati. Kita memang merasa senang sekali karena usaha kita untuk menampilkan yang terbaik telah berhasil, tapi kita lebih tahu tentang caranya untuk berhenti pada titik tertentu agar kebanggaan kita nggak lantas menjadi kesombongan yang membuat kita terlihat “kurang” dihadapan Allah. Karena semua hanya karena kuasa dan belas kasih Allah, sehingga kita merasa malu jika harus berkoar-koar atas keberhasilan yang kita buat. 

Dan dengan semua sifat yang kita lakukan itu, maka kita sebagai orang muslim yang bekerja malah jadi semakin berprestasi, dan membuat orang-orang disekeliling kita juga nyaman karenanya. Bukan karena hasil kerja kita yang bagus, tapi juga kepribadian kita yang baik sehingga susah bagi orang lain untuk nggak menyukai kita.

Jadi jika kita menjadikan Allah adalah sebaik-baik pengingat kita dalam kegiatan bekerja kita, maka kita nggak butuh lagi manusia yang mengawasi kita dalam pekerjaan kita tersebut. Kita akan lebih khawatir dalam pengawasan Allah, walaupun lagi nggak ada manusia yang meihat kita. Kita lebih malu terlihat “kurang” dimata Allah, dari pada mendahulukan rasa sungkan kita kepada sesama manusia. Tapi akhirnya kitapun justru akan terlihat lebih dalam pandangan manusia.

 

(NayMa)

 



RELATED ARTICLE