Kewajiban Menafkahi Keluarga | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna. P. Sari Editor : BL

Kewajiban Menafkahi Keluarga

337 kali dilihat

Ketika seseorang telah menjadi orang tua, maka banyak hak dan kewajiban yang lalu melekat kepadanya. Salah satunya adalah kewajiban yang berkaitan dengan anak-anak mereka. Hal ini harus serius dilaksanakan sebagai bukti tanggung jawab kita terhadap amanah Allah ta’ala.

 

Islam mewajibkan pemberian nafkah keluarga pada diri seorang suami, sebagaimana disebutkan didalam firman Allah ta’ala, (yang artinya) ”..Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah : 233).

 

Abu Daud meriwayatkan dari Hakim bin Mu’awiyah Al Qusyairi dari ayahnya, ia berkata; aku katakan; wahai Rasulullah, apakah hak isteri atas kami? Beliau berkata: "Engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberinya pakaian apabila engkau berpakaian..”

 

Termasuk dalam hal ini adalah memenuhi kebutuhan anak-anaknya, seperti : makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan lain-lain. Bahkan bila mungkin sebuah kejadian tidak mengenakkan terjadi di dalam rumah tangga, seperti perpisahan atau perceraian, namun tetap tidak ada istilah bekas atau mantan anak. Kewajiban menjaga dan menafkahi anak tetap melekat pada diri laki-laki tersebut.

 

Demikian juga nafkah istri yang masih dalam masa ‘iddah atau masa menunggu selama tiga bulan setelah perceraian. Nafkahnya masih merupakan tanggungan suaminya. Dan apabila kewajiban menafkahi anak tersebut tidak diberi perhatian, maka bisa diartikan bahwa suami tersebut telah berbuat dholim kepada istri dan anaknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan : “Adalah sudah menjadi dosa bagi seorang lelaki, menahan hak orang yang penghidupan orang tersebut ada di tangannya." (HR. Muslim).

 

Kezhaliman sangat berbahaya bagi pelakunya baik di dunia maupun di akhirat, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan siapapun berbuat aniaya. Dalam Islam, hukum istri yang bekerja mencari nafkah tidaklah wajib. Dan jika itu dilakukan istri pun juga tidaklah dilarang, dalam artian diperbolehkan asalkan memenuhi adab-adab yang Islami.

 

Sedangkan harta yang di dapat dari hasil istri bekerja tersebut, adalah hak miliknya pribadi. Suami tak memiliki hak untuk ikut menikmati atau menggunakannya, kecuali atas izin dan keikhlasan istrinya. Dan jika istri memiliki pendapatan sendiri dengan usaha yang dilakukannya, bukan berarti suami dibolehkan meninggalkan kewajiban yang sudah seharusnya ditunaikan. Kecuali, jika memang ada sebab alasan yang menguatkan, contohnya suami sakit. Wallahu ‘alam.


Artikel Terkait Lainnya..
Dari "Tulang Rusuk" Ke "Tulang Punggung"

RELATED ARTICLE