Kewajiban Suami dalam Rumah Tangga | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Kewajiban Suami dalam Rumah Tangga

852 kali dilihat

Sejak mengadakan perjanjian melalui aqad nikah, sepasang suami istri telah memiliki hak dan kewajiban masing- masing yang harus dipenuhi. Hal ini sangat penting untuk dilakukan demi untuk menjaga keutuhan rumah tangga, menghindari konflik, serta agar keharmonisan mereka tetap ada. Mereka masing- masing adalah pemimpin dari tanggung jawabnya tersebut.

Abdullah bin 'Umar berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.” (Hr. Bukhari).

Dan kali ini, kita akan sedikit membahas kewajiban suami dalam islam. Diantaranya adalah sebagai berikut,

  1. Menjaga keluarga agar selamat dari api neraka

Kewajiban besar para suami adalah menjaga istri serta keluarganya agar selamat dari api neraka. Allah Ta’ala telah berfirman, (yang artinya),  “Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan ahli keluargamu dari api Neraka.(At Tahrim: 6).

  1. Bergaul dengan baik dengan istrinya

Yang dimaksud di sini adalah tidak menyakiti, tidak menangguhkan hak istri padahal mampu, serta menampakkan wajah ceria di hadapan istri. Allah Ta’ala berfirman, (yang artinya), “Dan bergaullah dengan mereka dengan baik.” (QS. An Nisa’: 19).

  1. Memberi nafkah, pakaian dan tempat tinggal dengan baik

Suami wajib memberi istri dan anak-anaknya makanan, pakaian, tempat tinggal dan hal lainnya, tanpa bersikap berlebih-lebihan, sesuai kemampuannya, namun tidak pelit.

Allah Ta’ala berfirman, (yang artinya) “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada istrinya dengan cara ma’ruf.” (QS. Al Baqarah: 233).

  1. Meluangkan waktu untuk bercanda dengan istri dan mendengarkan curhatan istrinya

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Ia pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safar. ‘Aisyah lantas berlomba lari bersama beliau dan ia mengalahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala ‘Aisyah sudah bertambah gemuk, ia berlomba lari lagi bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun kala itu ia kalah. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ini balasan untuk kekalahanku dahulu.” (HR. Abu Daud dan Ahmad).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga biasa duduk dan menyimak curhatan dan cerita ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, walaupun curhatan itu sangat panjang. Hal ini menunjukan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang selalu sayang dan perhatian kepada Aisyah.

  1. Tidak memperbesar kesalahan-kesalahan kecil si istri

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika si pria tidak menyukai suatu akhlak pada si wanita, maka hendaklah ia melihat sisi lain yang ia ridhoi.” (HR. Muslim).

  1. Tidak memukul istri di wajah dan tidak menjelek-jelekkan istri

Dari Mu’awiyah Al Qusyairi radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak mendiamkannya selain di rumah.” (HR. Abu Daud).

‘Aisyah juga menceritahkan mengenai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku tidaklah pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul pembantu, begitu pula memukul istrinya. Beliau tidaklah pernah memukul sesuatu dengan tangannya kecuali dalam jihad (berperang) di jalan Allah. (HR. Ahmad).

Memang di perbolehkan mendidik istri dengan memukul, namun tidak di wajah dan tidak dengan pukulan yang keras atau tidak boleh dengan pukulan yang menampakkan bekas. Dan tidak lagi memukul istri ketika istri sudah berubah menjadi taat dan menurut pada perintah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika haji wada’, “Kewajiban istri bagi kalian adalah tidak boleh permadani kalian ditempati oleh seorang pun yang kalian tidak sukai. Jika mereka melakukan demikian, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membekas.” (HR. Muslim). 

  1. Memberikan hak istri dalam hubungan intim

Nab

Continue reading on next page...



RELATED ARTICLE