Kita Mah Apa Atuh! | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : Someone

Kita Mah Apa Atuh!

370 kali dilihat

Waktu rasanya berlalu dengan cepat. Dan nggak terasa kita sudah makin tua aja. Umur yang kemarin masih kecil, tiba- tiba sekarang sudah jadi belasan, puluhan. Tapi pertanyaannya, apa saja yang sudah kita kumpulkan buat “masa depan” kita yang abadi di akherat sana, Hijbaers?

 

Ya, karena bagi setiap muslim pasti ngerti kalau hidup nggak cuma akan kejadian di dunia fana ini saja. Yang abadi dan yang selamanya justru nanti di akherat. Dunia ini hanya tempat kita meninggal, bukan tempat kita tinggal. Dan lalu juga kita nggak bisa langsung masuk surga secara cuma- cuma. Akan banyak tahapan yang harus kita lalui. Salah satunya adalah hari dimana amal kita akan dihitung dan di pertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala.

 

Karena itu, jangan dulu merasa aman, berbangga hati atau merasa diri udah siap sedia menyambut hari besar itu kawan. Jangan juga malah merasa udah lebih baik dari yang lainnya. Atau sebaliknya kita mengaku belum siap, tapi hari- hari kita malah habis buat hora hore aja nggak ada guna.

 

Selama kita masih hidup, jangan pernah berhenti dalam usaha perbaikan diri kita. Karena kita belum ada apa- apanya kalau dibandingkan dengan mereka. Mereka adalah para muslim dan muslimah yang hidup dijaman Nabi. Mereka adalah generasi terbaik yang pantas banget dijadikan teladan dalam ibadah kita.

 

Ambil contoh aja Umar Bin Khatab, sahabat Rasullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam yang begitu gagah berani itu. Dia berangkat hijrah ke Madinah secara terang-terangan, tanpa ada yang berani menghalangi. Bahkan setan aja juga sampai takut saat lihat Umar, dan lari terbirit- birit karena keberanian dan keimanannya kepada Allah Ta’ala. Lihat pula salah satu keutamaan yang ada pada diri Abu Bakar. Tak tanggung- tanggung sahabat Nabi yang lemah lembut ini, rela menginfakkan seluruh harta bendanya demi perjuangan Islam, sampai- sampai Umar bin Khatab pun berkata ‘Demi Allah, aku tidak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selamanya”. Begitu pula yang dilakukan oleh Utsman bin Affan yang membeli sumur orang Yahudi yang sangat mahal, yang lalu ia wakafkan untuk kepentingan umat islam.

 

Lihat juga pengorbanan Ali Bin Abi Tholib yang dengan rela menggantikan posisi Rasulullah di tempat tidurnya saat beliau hijrah, padahal Ali bisa saja mendapat resiko terbunuh saat itu. Nggak jauh beda juga dengan yang dilakukan oleh Thalhah bin Ubaidillah. Dia adalah sahabat nabi yang pada perang Uhud kena tujuh puluh tikaman panah plus jari tangannya yang putus. Namun beliau tetap bertekat melindungi Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam.

 

Jauh banget pastinya kawan apabila ibadah kita dibandingkan dengan ibadah dan pengorbanan yang telah mereka lakukan. Dan karena itulah mereka akhirnya dijamin surga oleh Allah, alias mereka adalah penduduk surga yang hidup di dunia.

 

Lalu apa kabar dengan kita, kawan? Kita yang masuk surga aja belum pasti, tapi mati udah pasti, kenapa malah sibuk berasik-asik ria dengan dunia yang nggak ada habis-habisnya? Masih bisa juga kita ketawa ngakak-ngakak sambil mabok dan atau ngerokok ria. Atau pose selfi sambil ngumbar aurat biar bisa dibilang cantik aduhay. Astaghfirullah... moga aja bukan karena iman dan atau kepala kita yang lagi korsleting ya, Hijabers? Hee...

 

Kita memang nggak akan pernah bisa menyamai keimanan para sahabat Nabi. Namun, kita harus berusaha kok semampu kita agar bisa lebih baik dari hari ke hari. Agar nanti saat kita ditanya Allah di hari pertanggungan jawab amal kita, kita nggak akan buat susah diri kita sendiri. Dan apalagi sampai kita seperti yang di firmankan Allah Ta’ala dalam Alquran, dimana mereka merasa sangat menyesal, nangis dan sedih sampai- sampai mereka berharap lebih baik menjadi tanah saja. “Sesungguhnya Kami telah Memperingatkan kepadamu (orang kafir) azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah.” (QS.an-Naba’:40).



RELATED ARTICLE