Mas, Gajimu Berapa? | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : NayMa

Mas, Gajimu Berapa?

280 kali dilihat

 

Dalam sebuah keluarga, adanya keterbukaan, kejujuran serta sikap apa adanya kepada pasangan adalah hal yang sangat penting buat dilakukan. Hal ini meliputi semua urusan dalam rumah tangga, nggak terkecuali dalam hal penghasilan.

Di dalam Islam, memang tidak wajib memberitahu istri tentang berapa besar gajinya. Tapi ada syaratnya yaitu suami harus memenuhi segala keperluan istri dan anak. Tapi kalau suami memilih untuk memberitahukan istrinya tentang jumlah penghasilannya dan tidak menyembunyikan apapun, dan ini jauh lebih baik karena hal ini membuat komunikasi berjalan lebih lancar dan meminimalisir sikap saling curiga.

Dengan begitu, keluarga yang harmonis InshaAllah akan lebih gampang dicapai oleh sepasang suami istri tersebut, karena nggak ada yang merasa dibohongi atau perasaan galau karena menyembunyikan sesuatu.   

Maka dari itu para istri memang nggak terlalu boleh kepo alias selalu mencari tahu tentang berapa besar gaji suami, selama kebutuhan keluarga sudah terpenuhi olehnya. Tapi jika ternyata situasi yang kita hadapi adalah berbeda, dimana suami ternyata pelit kepada si istri dan tidak mau memenuhi kebutuhan anak-anaknya, maka diperbolehkan istri untuk mengambil uang suaminya sekadar untuk memenuhi kebutuhan keluarga tersebut.

Dari Aisyah ra, “Hindun Binti ‘Utbah, istri Abu Sufyan menemui Rasulullah saw, ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan seorang laki-laki yang pelit (kikir), tidak memberikan nafkah kepadaku dengan nafkah yang mencukupi untukku dan anakku kecuali dari apa yang aku ambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah aku berdosa karena hal itu?” Rasulullah  menjawab, “Ambillah dari hartanya dengan cara ma’ruf apa yang cukup buatmu dan anakmu,” (HR. Muttafaqun ‘alaih).

Kawan, uang yang diperbolehkan untuk diambil oleh si istri adalah sebatas kebutuhan saja. Walaupun jumlah kebutuhan itu pastinya tidak terbatas, namun bukan berarti si istri bisa berhura-hura dengan harta suami. Sika qana’ah harus tetap didepankan. Agar para istri termasuk orang-orang yang beruntung, seperti yang disebutkan oleh Rasul yang mulia dalam sebuah hadist dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. Beliau kala itu bersabda, “Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah mengaruniakannya sifat qana’ah (merasa puas) dengan apa yang diberikan kepadanya.” (Hr. Muslim).

 

(NayMa)



RELATED ARTICLE