Mata yang Tidak Akan Tersentuh Api Neraka | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Mata yang Tidak Akan Tersentuh Api Neraka

324 kali dilihat

Menangis adalah hal yang manusiawi dan biasa kita lakukan. Namun yang luar biasa adalah ketika kita bisa menangis saat mengingat dosa-dosa kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka, mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam jihad di jalan Allah. (HR. Tirmidzi).

Hijabers, ketika mata kita menangis mengingat Allah, disana ada kesyukuran atas nikmat yang tak terhingga, selain juga penyesalan terhadap dosa dan kesalahan yang kita lakukan. Orang yang matanya menangis karena Allah, maka otomatis hatinya akan senantiasa diselimuti kekhusyuan, kelembutan dan kasih sayang. Kekuatan hati itulah yang kemudian mewarnai seluruh pikiran dan perbuatannya

Umar bin Khattab ra, sahabat nabi dengan watak keras, pemberani, dan ditakuti setan serta musuh-musuhnya dikalangan manusia, tetapi dalam setiap ibadah hati beliau selalu khusyuk dan air matanya mengalir deras. Pada wajah beliau bahkan terdapat garis hitam seperti tali karena saking banyaknya menangis. Pernah pada suatu malam, ketika berzikir dan membaca sebuah ayat, beliau sampai menangis tersedu-sedu dan tersungkur jatuh.

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu juga menangis pada saat menjelang ajalnya. Maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Maka beliau menjawab, “Aku bukan menangis gara-gara dunia kalian yang akan kutinggalkan ini. Namun, aku menangis karena jauhnya perjalanan yang akan aku lalui sedangkan bekalku teramat sedikit, sementara bisa jadi nanti sore aku harus mendaki jalan ke surga atau neraka, dan aku tidak tahu akan ke manakah digiring diriku nanti?”

Hijabers, mereka adalah contoh dari beberapa sahabat Rasulullah SAW. Dan mereka mendapatkan keutamaan atas do’a Rasulullah. Mereka mendapatkan pahala hijrah kepada Allah dan RasulNya, sekaligus mendapatkan pahala berjihad di bawah panji Rasulullah SAW. Namun mereka dengan segala keutamaannya itu masih menangis karena takut serta risau atas urusan akheratnya. Lalu bagaimana dengan kita?

Hijabers, bukankah sebuah perbuatan yang bodoh, apabila akherat yang abadi didepan kita malah kita hadapi dengan hanya bersenang-senang dengan dunia, bergelak tawa, dan mengingat Allah hanya sekenanya?. Tidakkah dosa kita cukup membuat  kita menangis dan bertaubat kepada Rabb kita? Apakah mereka tidak mau bertaubat kepada Allah dan meminta ampunan kepada-Nya? Sementara Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang. (QS. al-Maa’idah: 74).

Hijabers, memang sangatlah jauh akhlak kita dibandingkan dengan akhlak para salafush shalih. Namun kita masih punya kesempatan dan waktu sekarang untuk memperbaiki diri sebelum kita mengawali kehidupan yang abadi yaitu di akherat nanti, dimana tidak hanya mata yang akan dipertanggungjawabkan, namun kedua kaki kitapun tidak akan bergerak sebelum ditanya, umur kita dihabiskan untuk apa, ilmu kita dipergunakan untuk apa, harta kita diperoleh dari mana dan dibelanjakan untuk apa, serta badan kita juga akan dipergunakan untuk apa.

Mari kita isi hari-hari kita dengan banyak memohon ampun kepada Allah, banyak menangisi dosa-dosa kita, banyaklah mengharapkan ridho Allah, agar kelak Allah mengasihi kita dan mengumpulkan kita kedalam golongan orang- orang yang sholeh dan yang terselamatkan. Aamiin.



RELATED ARTICLE