Menangis di Akhir Ramadhan | DiaryHijaber.com

Writer : Someone Editor : Someone

Menangis di Akhir Ramadhan

963 kali dilihat

Kemuliaan bulan ini, sangat istimewa bagi orang- orang yang beriman. Kesempatan untuk lebih dekat kepada Robb nya, pahala yang dilipat gandakan hitungannya, dan berkah yang dibentangkan luas bagi hamba-hambanya, membuat mereka bersedih ketika ujung Ramadhan tiba. Hatinya juga khawatir jika ternyata Allah mentakdirkan mereka untuk tidak bertemu lagi di Ramadhan tahun depan.

Mereka tidak sibuk menanyakan “apakah kamu sudah memiliki baju baru untuk lebaran?” atau “apakah sudah belanja kue-kue enak untuk nanti lebaran?”. Mereka malah sibuk melakukan lebih banyak kebaikan dan memikirkan ibadah apa yang masih kurang untuk dilakukan, mumpung hari ini masih Ramadhan. Mereka memperbanyak ibadah disiang hari, lebih lebih dimalam hari. Seakan setiap detiknya tidak dibiarkan pergi kecuali tanpa bernilai pahala. Hal ini mereka lakukan persis sama dengan tauladan mereka, Rasulullah Salallahu’alaihi wassalam.

Dari Aisyah RA berkata: “Rasulullah jika telah masuk sepuluh terakhir bulan Ramadhan menghidupkan malam, membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggang.” (Muttafaq ‘alaih)

Tapi Hijabers, walaupun begitu rutin mereka melakukan banyak ibadah, namun tetap saja hati mereka juga merasa khawatir apabila amal kebaikan itu ternyata tidak diterima oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Umar bin ‘Abdul Aziz berkata tatkala beliau berkhutbah pada hari raya Idul Fithri, “Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari.

Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya.

Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima.

Namun sebagian salaf malah bersedih ketika hari Raya Idul Fithri.

Dikatakan  kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.”

Mereka malah mengatakan, “Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.”

Begitulah hati orang-orang yang beriman tersebut. Mereka tidak lantas sangat percaya diri atau malah sombong dengan segala amal ibadahnya. Hati mereka begitu terkait dengan Tuhannya, mereka menyadari betapa besar kekuasaan Tuhannya. Mereka juga mengerti posisi mereka yang hanya seorang hamba, sehingga hati mereka khawatir jangan-jangan amal kebaikan yang telah dilakukan ternyata tidak diterima olehNya.

Mereka sibuk memperbaiki diri dari hari ke hari. Sekuat tenaga mereka memaksimalkan waktu Ramadhan untuk kebaikan. Pada akhirnya merekapun sedih menangisi kepergian bulan mulia ini. Berharap bahwa Allah akan menerima semua amalan mereka, sembari berdoa agar tahun depan dipertemukan lagi dengannya kembali.   

Lalu, ...

Bagaimana dengan kita Hijabers? Apakah kita juga termasuk salah satu di antara mereka? Apakah juga telah melakukan hal yang sama dengan mereka? Ataukah sebaliknya?

Mari kita memohon, semoga di akhir-akhir Ramadhan Ini Allah membukakan pintu hati kita agar kembali kepadaNya, dan mengisinya dengan banyak kebaikan, untuk mengejar ketertinggalan kita dihari-hari yang lalu. Semoga kita termasuk mereka yang amal ibadahnya diterima dan  diampuni dari segala dosa, dan bukan orang-orang yang merugi seperti yang telah disebutkan oleh Ibnu Rajab Al Hambali berikut ini, “Tatkala semakin banyak pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapati pengampunan tersebut, sungguh dia telah terhalangi dari kebaikan yang banyak.”

Aamiin...

 

 

 

Writer : Ratna P Sari

Editor : BL



RELATED ARTICLE