Meneladani Kemuliaan Khadijah, Istri Nabi Salallahu‘alaihi Wasallam | DiaryHijaber.com

Writer : Someone Editor : Someone

Meneladani Kemuliaan Khadijah, Istri Nabi Salallahu‘alaihi Wasallam

731 kali dilihat

Ketika seorang wanita telah menjadi menikah dan menjadi seorang istri, bukan lantas hari-harinya akan berubah hanya sebagai pelayan suami, penyenangnya, atau pun perawat anak-anaknya saja. Tapi lebih dari itu, menjadi seorang istri adalah sebuah ladang pahala besar, yang menguntungkan para wanita tersebut. Dan mereka yang berhasil dalam tugas dan kewajibannya itu, bahkan akan di perbolehkan masuk surga dari pintu mana saja yang diinginkannya, sebagai imbalannya.  Allahu Akbar!

Menjadi Istri yang shalihah memang tidaklah gampang, Hijabers. Butuh proses belajar lahir batin, butuh kelegaan jiwa, penguasaan dan kontrol diri yang kuat, dan kedekatan yang ekstra kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Hal ini membutuhkan waktu bukan hanya satu dua hari, melainkan pelajaran seumur hidup para istri tersebut. Dan kelak jika mereka berhasil, mereka bahkan digelari sebagai “sebaik- baik perhiasan dan kesenangan dunia”.  Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wa sallam bersabda, Dunia itu semuanya menyenangkan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita sholehah.” (H.R. Muslim).

Hijabers, sudah menjadi hal yang manusiawi ketika seorang wanita memiliki sifat manja. Namun bagi seorang istri sholihah, kemanjaan itu tidak lantas dibuatnya menjadi hal yang akan menyusahkan suami mereka. Dia adalah yang pertama yang sangat mengerti tentang bagaimana keadaan suami, dan bagaimana harus memperlakukan suaminya.

Seperti yang dilakukan oleh Siti Khadijah, istri Rasulullah Salallahu 'alaihi Wa sallam. Beliau selalu menguatkan semangat dan meringankan beban penderitaan suaminya. Beliau juga selalu berusaha untuk mengecilkan beban dan musibah yang dialami suaminya dalam perjuangan, hingga akhir hayatnya.

Salah satunya adalah setelah Rasulullah menerima wahyu yang pertama di Gua Hira'. Rasulullah yang kala itu menceritakan kepada istrinya tentang ketakutannya yang luar biasa karena secara tiba-tiba sewaktu Ia berada di Gua Hira', Rasulullah didatangi malaikat yang berkata, ''Hai Muhammad! Engkau adalah Rasulullah!''

Khadijah dengan sigap langsung merespon positif sang suami dengan memberikan dukungan, bantuan dan hiburan. Dengan penuh kehangatan dan kasih sayang pula, Khadijah lalu berusaha menghibur dan meyakinkan hati suaminya. Dia berkata, "Bergembiralah wahai sayangku! Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanMu sedikitpun. Demi Allah sesungguhnya diriMu aku perhatikan, senantiasa memelihara hubungan baik dengan keluarga, bercakap benar, menunaikan amanah, tabah dalam menanggung musibah, suka menerima tamu dan senang menolong orang yang ditimpa bencana." (HR.Thabrani)

Karena sikap pengertian, kasih sayang, dan kelembutan inilah, sampai-sampai Rasulullah SAW tidak dapat melupakan Khadijah bahkan ketika istrinya itu telah meninggal dunia. Dan Aisyah, istri Rasulullah SAW yang lain pun dibuat cemburu karenanya.

Hijabers, kita memang tidak semulia Beliau, tapi paling tidak, kita bisa berusaha untuk menjadi wanita akhir zaman yang dirindukan surga sebagai wanita yang shalehah. Semoga sikap mulia ibunda Khadijah tersebut, bisa kita jadikan tauladan kebaikan. Aamiin.





Writer : Ratna P Sari

Editor : BL 



RELATED ARTICLE