Menjadi Mulia dengan Banyak-Banyak Bersabar | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Menjadi Mulia dengan Banyak-Banyak Bersabar

505 kali dilihat

Sabar adalah salah satu dari bagian iman, selain syukur kepada Allah. Dan sabar adalah amalan yang sangat mulia di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala. Tidak ada akibat dari sebuah sabar, kecuali hanya kemuliaan seperti yang dialami oleh mereka yang mulia ini. Contohnya, Sumayyah yang mendapatkan surga Allah, dan gelar sebagai wanita yang pertama meraih syahid, Aisiyah istri fir’aun yang kuburnyapun berbau sangat harum. Contoh lain adalah Abdullah bin Hudzafah yang ketika menerima hukuman dari seorang raja yang kejam, karena tidak mau meninggalkan agama Allah. Dengan penuh kesabaran dan ketakwaan dia malah berkata,  “Aku menangisi nyawaku yang hanya satu yang jika engkau lemparkan ke dalamnya maka akan segera pergi. Aku berharap seandainya nyawaku sebanyak rambut yang ada di kepalaku kemudian engkau lemparkan satu per satu ke dalam api karena Allah.” Hal itulah yang kemudian membuat Umar sampai berkata, “Wajib bagi setiap muslim untuk mencium kening Abdullah bin Hudzafah. Aku yang akan memulainya.”

Dan masih banyak lagi yang lainnya,...

Hijabers, banyak yang bilang, menjadi manusia yang penuh kesabaran itu bukanlah hal yang mudah. Hal ini benar sekali, apabila kita meniatkan melakukan kesabaran tersebut hanya sekedar menjaga emosi diri kita, menghindarkan diri dari pertikaian, menunjukkan kualitas diri kita di hadapan manusia lain, dan atau alasan duniawi lainnya. Berbeda ketika kita meniatkan sabar itu karena Allah dan untuk meneladani sikap mulia Rasulullah Shalallahu alaihi Wa Sallam. Hati akan mudah menjadi lembut, pikiran akan tetap dingin dan damai, dan jiwa kita akan tetap tenang. Itulah kekuatan iman yang sebenarnya. Dan akhirnya, kitapun akan menjadi manusia yang beruntung dan lebih baik. Rasulullah saw bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR Muslim).

Tidak ada satupun dari kita yang tahu tentang apa yang akan terjadi pada diri kita ini, walaupun satu detik ke depan. Kadang tidak ada pilihan lain dalam menyikapi keadaan kecuali hanya dengan sabar. Jika memang harus begtu, janganlah lalu kita mengeluh atau gampang menyerah. Karena sikap sabar akan membuktikan kebenaran akan iman kita, membuahkan kasih sayang yang lebih serta pujian dari pencipta semesta ini pada diri kita. Dan bukankah hal itu adalah lebih dari cukup, dan sudah sangat akan membahagiakan diri kita?

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman di dalam Al Quran, (yang artinya), “Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Baqarah : 177).

Ad-Daqqaq rahimahullah berkata, “Hakekat dari sabar yaitu tidak memprotes sesuatu yang sudah ditetapkan dalam takdir. Adapun menampakkan musibah yang menimpa selama bukan untuk berkeluh-kesah -kepada makhluk- maka hal itu tidak meniadakan kesabaran.”

Hijabers, dunia ini adalah ajang cobaan untuk kita, dan bukan tempat untuk bersenang- senang serta menikmati banyak ha yang nikmat- nikmat saja. Kehidupan sementara ini tidak melulu menawarkan kebahagiaan tanpa akhir. Tidak ada kebahagiaan yang sempurna, dan selamanya. Karena sekali lagi, dunia adalah ajang ujian dan tempaan bagi diri kita. Allah ingin tahu siapa hamba-hambanya yang mencintaiNya dan mampu bersabar diatas imannya, dan siapa saja hamba-hambanya yang sekedar main-main saja. Karena itu apapun dan bagaimanapun beratnya sebuah musibah atau masalah, lalui saja semuanya dengan kesabaran karena Allah, dan hilangkanlah keluh kesah yang justru akan menambah beratnya beban kita. InshaAllah akhirnya kitapun akan menjadi pribadi yang lebih kuat, dan iman kitapun akan menjadi lebih mantab.

Yakinlah, kesabaran kita tidak untuk selamanya. Dan di akhir cerita, semua itu akan berbuah kebaikan dan kenikmatan yang akan kita nikmati sendiri. Bahkan Allah juga akan menggantikan semua pengorbanan kesabaran itu dengan surga. Seperti yang dialami oleh seorang wanita berkulit hitam yang dikabarkan dalam sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berikut ini,

Dari ‘Atho’ bin Abi Robaah, ia berkata bahwa Ibnu ‘Abbas berkata padanya, “Maukah kutunjukkan wanita yang termasuk penduduk surga?” ‘Atho menjawab,Iya mau.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Wanita yang berkulit hitam ini, ia pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas ia pun berkata, Aku menderita penyakit ayan dan auratku sering terbuka karenanya. Berdo’alah pada Allah untukku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Jika mau sabar, bagimu surga. Jika engkau mau, aku akan berdo’a pada Allah supaya menyembuhkanmu.” Wanita itu pun berkata, “Aku memilih bersabar.” Lalu ia berkata pula, “Auratku biasa tersingkap (kala aku terkena ayan). Berdo’alah pada Allah supaya auratku tidak terbuka.” Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun berdo’a pada Allah untuk wanita tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim).



RELATED ARTICLE