Menyentuh Al Qur'an Dalam Keadaan Berhadast | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna. P. Sari Editor : BL

Menyentuh Al Qur'an Dalam Keadaan Berhadast

230 kali dilihat

(DiaryHijaber.com) - Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad keluarga dan sahabatnya.

 

Al Qur'an adalah kitab suci kita yang mulia. Karena itupun kita tidak boleh sembarangan dalam memperlakukannya. Salah satunya adalah dengan tidak menyentuh Al Qur’an ketika kita sedang berhadats besar maupun kecil.

 

Orang yang berhadats baik itu hadats besar seperti sedang haidh, nifas dan orang yang junub atau hadats kecil contohnya orang yang sehabis kentut atau kencing dan belum bersuci tidak boleh menyentuh mushaf, baik seluruh atau sebagiannya. Inilah pendapat para ulama empat madzhab. Dan yang dimaksud menyentuh mushaf menurut mayoritas ulama adalah menyentuhnya dengan bagian dalam telapak tangan maupun bagian tubuh lainnya.

 

Dalil dari hal ini adalah firman Allah Ta’ala, (yang artinya), “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (QS. Al Waqi’ah: 79)

 

Nabi ‘alaihi Wa Sallam bersabda, (yang artinya), “tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.” (Hr. Al Hakim)

 

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Pendapat yang tepat dalam masalah ini adalah pendapat para sahabat. Itulah pendapat yang sejalan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah yaitu menyentuh mushaf tidak diperbolehkan bagi orang yang berhadats.”

 

Orang yang berhadats besar diperbolehkan menyentuh Al Qur’an setelah mereka bersuci, yaitu mandi wajib bila mereka berhadat besar, atau berwudhu apabila berhadast kecil.

 

Ketika kita sedang berhadast, hanya dibolehkan menyentuh mushaf selama kita menggunakan pembatas seperti sarung tangan, kain dan lain- lain. Karena larangan yang dimaksud adalah larangan menyentuh mushaf secara langsung.

 

Namun, jika yang disentuh adalah terjemahan Al Qur’an dalam bahasa non Arab, maka diperbolehkan karena itu tidak disebut Al Qur’an, melainkan kitab atau buku tafsir sebagaimana ditegaskan oleh ulama Malikiyah. Wallahu’alam



RELATED ARTICLE