Miskin Hati Itu Lebih Sengsara Dari Pada Miskin Harta, Kenapa? | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : NayMa

Miskin Hati Itu Lebih Sengsara Dari Pada Miskin Harta, Kenapa?

213 kali dilihat

Semua orang di dunia ini pastinya mengharapkan hidup yang nyaman, enak dan santai. Tapi sayangnya, ketentuan Allah nggak selamanya seperti itu. Ada beberapa orang yang memang di kasih cobaannya adalah dalam hal harta.

Mereka hidup dalam keadaan miskin. Hari-hari mereka juga serba kekurangan dalam sandang, pangan dan papan. Mereka seakan nggak mengerti rasanya tidur nyenyak di kasur ataupun sekedar makan enak di restoran. Hal ini bahkan dialami mereka di seumur hidup mereka.

Walaupun ada dari mereka yang lalu malah mengambil sikap antipati ke Allah karena kemiskinan mereka itu, tapi ada juga yang justru malah mendekatkan diri banyak-banyak ke Allah. Mereka merasa bahwa satu-satunya kekayaan yang mereka punya adalah ketenangan hati mereka saat berada di dekat Allah.

Maka beruntunglah orang-orang yang seperti ini. Mereka memang miskin harta tapi tidak miskin hati. Mungkin suatu saat ada dari mereka yang bisa mengubah nasib dengan bekerja keras, dan lalu mendapatkan harta. Dan lalu mereka juga memiliki iman kepada Allah, yang harganya tidak akan pernah ternilai oleh harta.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban)

Kawan, orang-orang yang miskin harta, adalah lebih beruntung dari pada orang-orang yang miskin hati. karena bagi orang yang miskin hati ketika mereka banyak memiliki harta sebanyak apapun, tapi tetap saja mereka akan merasa kurang dan kurang.

Selanjutnya, jadilah hidup mereka hanya untuk harta. Pikiran dan hati mereka dipenuhi oleh hal duniawi. Mereka kelihatannya bergelimang harta, padahal sebenarnya hidup merekalah yang sedang diatur oleh harta-harta mereka, bahkan sampai membuat mereka lupa akan kehidupan akhirat mereka.

Benar-benar sengsara orang yang seperti ini. Ketamakan mereka akan dunia telah membeli kebahagiaan dan kedamaian hidup mereka sendiri. Dan kesengsaraan itu nggak berlangsung cuma di dunia saja. Bahkan nanti di akhirat mereka juga nggak akan bisa lepas dari tanggung jawab ketika dengan detail dan satu persatu Allah menanyakan tentang harta mereka selama di dunia.

Jadi benar sekali kalau ada yang bilang bahwa miskin harta itu lebih nggak masalah dari ada miskin hati. Miskin harta mungkin hanya akan menderita di dunia, tapi miskin hati sudah pasti menderita dunia akhirat.

Posisi yang nyaman sih memang kita punya harta tapi juga kaya jiwa, kawan. Kita punya harta tapi hidup kita nggak diatur oleh harta kita itu sendiri, sehingga kita bisa mendapatkan kebahagiaan hidup nggak cuma dari yang sekedar sesuatu yang bisa kita beli saja. Karena dalam hidup ini, justru banyak hal yang nggak bisa kita beli dengan uang. Ya nggak, sih?

 

(NayMa)



RELATED ARTICLE