Saat Allah Telah Menutup Aib Kita | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : NayMa

Saat Allah Telah Menutup Aib Kita

149 kali dilihat

Allah adalah Robb kita yang Maha Penyayang. Kita semua sangat disayang bahkan ketika kita ingkar dan atau lagi nggak mengingat Dia sekalipun. Dia tetap saja memberi apa yang kita butuhkan dalam hidup. Sebut saja, tetap ada rizki untuk kita makan, tetap ada udara untuk kita nafas, organ tubuh kita juga tetap berfungsi dan lain sebagainya.

Nggak cuma itu saja kawan, bahkan Allah juga tetap banyak menutup aib dan kekurangan kita sebagai manusia biasa. Dengan begitu, kita tetap bisa tampil terhormat dihadapan orang lain.

Tapi entah kenapa banyak dari kita yang justru berlaku sebaliknya pada diri kita sendiri. Kita malah sibuk umbar kiri kanan tentang aib dan kekurangan diri kita sendiri. Bahkan ada diantara kita yang menyatakan hal itu secara langsung lewat media dimana lalu semua orang bisa mendengarkan apa yang sedang kita siarkan tersebut. Kita ibarat membuka pakaian malu kita sendiri, dan lalu semua orang bisa melihat begitu banyak aib yang kita punya.

Padahal Rasulullah shalallaahu’alaihi wassalam telah mengabarkan bahwa seseorang yang terang-terangan dan tidak lagi malu-malu dalam berbuat maksiat termasuk golongan yang nggak akan diampuni kesalahannya. Na’udzubillah min dzalik.

“Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di paginya ia berkata: wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu –padahal Allah telah menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya.” (HR. Bukhari Muslim)

kawan, menutup aib diri kita sendiri, bukan berarti kita bersikap munafik dan tidak apa adanya. Tapi Allah memang menghendaki kita sebagai hambaNya merasa malu dan menyesal setelah bermaksiat. Bukan malah mengumbarnya sehingga banyak orang lalu mengetahui kekurangan kita tersebut.

Begitulah sayangnya Allah kepada diri kita yang memiliki banyak kekurangan ini. Maka kita sebagai pemimpin yang baik atas diri kita sendiri, hendaknya bisa juga menyayang diri kita dengan menempatkan diri kita lebih hormat dan menghargai diri kita selalu, salah satunya adalah dengan tidak menceritakan kekurangan dan atau aib kita pada orang lain. Cukuplah kita dan Allah saja yang tahu, dan lalu kita banyak banyak bertaubat atasnya, sehingga Allah akhirnya mau mengampuni kita.

 

(NayMa)



RELATED ARTICLE