Sah atau Tidaknya Jika Wanita yang Mengimami Salat | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Sah atau Tidaknya Jika Wanita yang Mengimami Salat

271 kali dilihat

Tentu masih segar dalam ingatan kita, ketika seorang wanita liberal yang bernama Amina Wadud ditahun 2005 menciptakan sebuah sensasi, dengan menjadi imam salat Jumat di gereja Katedral di America Serikat. Hal yang lebih aneh lagi adalah ketika makmum yang mengikuti sholatnya tersebut tidak hanya para wanita, melainkan juga para laki-laki. Dan tentu saja, sensasi yang dibuatnya tersebut berhasil. Namun tentunya bukan malah pujian yang di dapat wanita yang pernah menjadi profesor di bidang Religi dan Filsafat Universitas Persemakmuran Virginia Amerika ini, melainkan kecaman dari seluruh dunia Islam. 

Episode selanjutnya pun tak kalah mengejutkan. Hal ini terjadi ketika Wadud didapuk sebagai imam salat di Pusat Pendidikan Muslim di Oxford, Inggris pada 2008, tetap dengan makmum “gado-gado” laki-laki dan perempuan. Bahkan ia juga sempat memberikan khutbah singkat sebelum salat dua rakaat.

Namun “hebatnya”, kecaman yang didapatkannya bahkan dari ulama di seluruh dunia sekalipun, tidak membuat peraih gelar Ph.D. Studi Arab dan Islam di Universitas Michigan ini bergeming sama sekali.

Untuk mengantisipasi kejadian yang sama terjadi terutama di negeri kita ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhirnya segera mengeluarkan fatwa tentang wanita yang menjadi Imam Salat. Hal ini perlu dilakukan untuk memberikan kepastian hukum dalam syari’at Islam agar dapat dijadikan pedoman bagi umat Islam.

Fatwa MUI memutuskan "Dengan bertawakkal kepada Allah SWT, MUI memutuskan bahwa wanita menjadi imam salat berjamaah yang di antara makmumnya terdapat orang laki-laki hukumnya haram dan tidak sah. Adapun wanita yang menjadi imam salat berjamaah yang makmumnya wanita, hukumnya mubah."

MUI mendasarkan fatwanya pada Kitabullah, sunnah Rasulullah SAW, ijma' ulama, dan kaidah-kaidah fiqh. Firman Allah SWT antara lain: "Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)..." (QS An-Nisaa': 34).

Sedangkan hadits-hadits Nabi SAW, antara lain: "Rasulullah memerintahkan Ummu Waraqah untuk menjadi imam bagi penghuni rumahnya." (HR Abu Dawud dan Al-Hakim).

Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah seorang perempuan menjadi imam bagi laki-laki.” (HR Ibnu Majah).

Rasulullah SAW  juga bersabda, Saf (barisan dalam shalat berjamaah) terbaik untuk laki-laki adalah saf pertama (depan) dan saf terburuk bagi mereka adalah saf terakhir (belakang); sedangkan saf terbaik untuk perempuan adalah saf terakhir (belakang) dan saf terburuk bagi mereka adalah saf pertama (depan).”

Di kalangan sahabat pun tidak pernah ada wanita yang menjadi imam shalat di mana di antara makmumnya adalah laki-laki. Wanita hanya boleh menjadi imam shalat berjamaah yang makmumnya hanya wanita, seperti yang dilakukan oleh Aisyah dan Ummu Salamah.

Dari Roithoh Al Hanafiyah, dia mengatakan: “Aisyah dulu pernah mengimami para wanita dan beliau berdiri (sejajar) dengan mereka ketika melaksanakan shalat wajib.” (HR. ‘Abdur Rozak, Ad Daruquthniy, Al Hakim dan Al Baihaqi).

Dari Hujairoh binti Husain, dia mengatakan: “Ummu Salamah pernah mengimami kami (para wanita) ketika shalat Ashar dan Beliau berdiri di tengah-tengah kami.” (HR. Abdur Rozak, Ibnu Abi Syaibah, Al Baihaqi).



RELATED ARTICLE