Salatlah dengan Sungguh-Sungguh Memuja Allah | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Salatlah dengan Sungguh-Sungguh Memuja Allah

309 kali dilihat

Adab dan sopan santun adalah salah satu bagian menarik dari kehidupan manusia. Ini karena kedua hal tersebut tidak dimiliki oleh makhluk Allah yang lain. Ketika manusia kehilangan itu, maka manusia yang lain juga akan mngambil jarak darinya. Entah karena alasan tidak enak hati, marah, atau yang lainnya. Sangat merepotkan sekali berhubungan dengan manusia yang jauh dari etika dan sopan santun.

Lalu bagaimana ketika hal tersebut berlaku dalam hubungan kita dengan Allah subhanahu wata’ala? Salah satu contohnya melakukan salat dengan tidak khusuk, dan atau malah sibuk memikirkan hal yang lain, walaupun secara fisiknya sedang melakukan salat.  

Padahal salat adalah sarana kita untuk lebih dekat kepada Allah. Namun sikap kita yang menyia- nyiakan itu dan atau malah asal-asalan melaksanakannya serta menyepelekan arti ibadah itu sendiri, berarti secara tidak langsung kita telah bersikap tidak sopan kepada Allah.

Namun Allah sangat maha penyayang dan pengampun kepada kita. Allah selalu memberikan kita kesempatan lagi dan lagi untuk kembali kepada jalan kebaikan, walaupun Allah juga sangat maha kuasa untuk memberi balasan kita yang setimpal dengan kesalahan kita.

Hijabers, salat adalah induknya seluruh ibadah, yang bila ia baik maka baiklah ibadah-ibadah lainnya. Namun bila salatnya rusak salah satunya karena tidak khusuk, maka ibadah-ibadah lainnya akan terpengaruh. Salat juga adalah amalan yang akan dihisab pertama kalinya diakhirat nanti. Karena itu, seperti ketika kita mengetahui manfaat baik dari sesuatu yang lalu kita bersemangat untuk menjaga, memperhatikan dan merawatnya, maka jika kita benar-benar perduli dengan akhirat kita, kitapun akan membaguskan kualitas salat kita. Bukan sekedar menghindari sifat tergesa-gesa, asal-asalan, atau yang penting selesai, namun nilai kekhusukan serta pengaruhnya di kehidupan kitapun akan kita ambil perhatian terhadapnya.

Sebelum kita tutup, semoga nasehat dari seorang ulama bernama Tsauban bin Ibrahim rahimahullahu ini bisa selalu kita ingat-ingat bersama. Ada empat perkara buruk yang menghasilkan buah: tergesa-gesa yang buahnya adalah penyesalan, kagum pada dirinya sendiri yang buahnya adalah kebencian, keras kepala yang buahnya adalah kebingungan, dan rakus yang buahnya adalah kemiskinan”.



RELATED ARTICLE