Si Nona "BPJS" (Bajet Pas-Pas an, Jiwa Sosialita) | DiaryHijaber.com

Writer : NayMa Editor : NayMa

Si Nona "BPJS" (Bajet Pas-Pas an, Jiwa Sosialita)

310 kali dilihat

Siapa yang nggak suka kalau dalam hidup dia itu selalu dalam keadaan ada dan berada, bahkan lebih dari yang lain? Pastinya semua orang berharap hal tersebut bukan, kawan? Kalau semua itu sungguhan sih oke-oke aja. Karena ada kasusnya dimana seorang cewek yang bermimpi menjadi seorang putri yang hidup lengkap dengan segala fasilitas yang tersedia bak dikerajaan, namun sebenarnya dalam hidupnya dia nggak yang ada-ada banget. Jadi dengan kata lain, hidupnya itu macam di ada-adakan sehingga kelihatan sangat berada.

Hal macam ini sampai kejadian gara-gara dia takut nggak diakui oleh geng ngumpulnya. Secara mereka adalah para kaum berada, atau yang kaya dalam hal harta. Dia yang sebenarnya biasa-biasa saja akhirnya jadi tertular virus mewah dan pamer. Maka jadilah hidupnya banyak dalam drama dan kebohongan demi “bertahan hidup” dan tetap eksis dalam pergaulan.

Selain itu, tontonan televisi yang banyak bawa materi tentang artis yang pada pamer harta semakin nambah semangatnya dan memperpanjang mimpinya untuk bisa seperti mereka, walaupun sebenarnya dia nggak akan bisa. Dan untuk merealisasikan semua itu, akhirnya diapun nekat menempuh segala cara. Nggak perduli halal atau haram, semua dilakukan juga. Nggak perduli itu nabrak aturan Allah, dan atau membohongi hati nuraninya sendiri semua tetap diusahakan juga.

Cuma masalahnya, seperti kata pepatah “sepandai-pandai tupai melompat maka akan jatuh juga”. Sepandai pandainya si nona ini melancarkan aksi berbohong, berdramatisasi, ngibul, nubruk sana-sini, atau apapunlah bahasanya, akan tetap ketahuan jugalah aslinya dia seperti apa. Hati nuraninya pun akhirnya lelah dan nyerah.  

Kawan, mungkin ada diantara kita yang menjalankan peran sebagai Nona ini. Maka ketahuilah, bahwa nggak selamanya harta itu membahagiakan hidup kita, walaupun kita hidup nggak bisa kalau nggak pakai harta. Harta nggak bisa membeli kebahagiaan dan ketulusan yang sebenarnya. Malah justru ketulusan itu susah didapat saat kita memiliki harta yang melimpah ruah. Banyak kasusnya justru seperti itu.

Karena itu jangan pernah malu jika kita sekarang masih miskin, tapi malulah bila kita pura-pura kaya, dan atau berdrama seakan kita orang kaya, lalu melakukan segala cara agar terlihat kaya. Apalagi jika kita sampai mengadakan acara berbohong atau berhutang kiri kanan sekedar untuk gaya-gayaan aja, atau biar diterima komunitas kita, dan atau lalu disanjung-sanjung oleh mereka.

Kawan, Allah sama sekali nggak pernah menilai kita dari tampilan fisik dan atau kekayaan kita. Dari abu Hurairah ia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian akan tetapi dia melihat kepada hati-hati kalian dan perbuatan-perbuatan kalian” (Hr. Muslim)

Kawan, justru ketika kita kaya maka durasi hisab kita dihadapan Allah nantinya akan lebih panjang dan lama. Karena kita akan banyak ditanya darimana, dan untuk apa semua harta itu kita gunakan. Selain itu banyak harta justru gampang menjadikan kita lupa akan Allah kalau kita nggak belajar menguatkan iman kita.

Karena itu nggak perlu kita iri, pengen menjadi orang lain, dan atau iri atas kekayaan atau harta yang dimiliki oleh orang lain. Karena Allah pasti sudah dengan pas memberi segala yang terbaik untuk kita. Rasa iri atau gampang pengen seperti itu hanya akan menjadi peluang bagi setan untuk mengacaukan pikiran dan hidup kita. Seperti pesan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, “janganlah sekali-kali menatap dan merenungi harta orang lain. Karena disitulah peluang setan menyusupkan godaannya.”

Sekali lagi belajar bersyukur dengan apa yang kita punya sekarang, dan nggak terlalu bermimpi dengan apa yang susah kita punya, itulah yang paling menenangkan sebenarnya. Jangan mengira bahwa mereka yang kaya itu sudah pasti penuh kebahagiaan yang sempurna. Karena setiap orang pasti punya masalah di dunia ini, pun begitu pula dengan mereka. Hanya saja kita nggak tahu dari sisi mana mereka kurang bisa berbahagia.

Dan kitapun punya sisi sendiri untuk bisa bahagia, yang siapa tahu malah justru hal itulah yang diimpikan untuk mereka miliki. Karena itu, sekali lagi syukuri apa saja yang sudah kita dapatkan, dan jangan terlalu panjang angan-angan tentang sesuatu yang tidak kita miliki. Karena itu kebanyakan dari setan, dan setan nggak akan pernah buat kita bahagia. 

 

(NayMa)

 



RELATED ARTICLE