Siti Aisyah, Wanita Suci untuk Nabi | DiaryHijaber.com

Writer : Ratna P Sari Editor : BL

Siti Aisyah, Wanita Suci untuk Nabi

484 kali dilihat

Siti Aisyah, adalah istri kesayangan nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam, sekaligus putri dari sahabat terdekat Beliau, Abu Bakar. Aisyah diberi sembilan perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun setelah Maryam. Jibril juga telah menunjukkan gambarnya tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintah untuk menikahinya. Rasulullah SAW juga menikahinya Aisyah tatkala ia masih gadis, dan ia pun akhirnya memiliki panggilan kesayangan “Humaira” dari Rasulullah, karena parasnya yang cantik jelita.

Aisyah adalah seorang wanita yang cerdas, yang mampu menghafalkan banyak sekali hadist. Al-Quran pun turun sewaktu Ia dan Rasulullah SAW berada dalam satu selimut. Dan akhirnya dipangkuan Aisyah pula, Rasulullah SAW menghembuskan nafas terakhir Beliau, dan dikuburkanlah Beliau di kamar Aisyah. Itulah sedikit catatan tentang keutamaan Aisyah, wanita mulia, dan kesayangan Rasulullah SAW.

Selain itu, ada sebuah kisah menarik yang terjadi dalam kehidupan hubungan rumah tangga Aisyah dan Rasulullah SAW. Yaitu ketika fitnah atas kesucian Aisyah dilancarkan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. Hingga akhirnya turun ayat Al-Qur’an yang menerangkan kesucian dirinya.

Kisahnya bermula ketika sebelum berangkat perang, Rasulullah mengundi istrinya yang akan menyertainya berperang. Ternyata undian jatuh kepada Aisyah. Dan saat itu adalah bertepatan dengan momen turunnya perintah memakai hijab.

Setelah perang selesai dan kaum muslimin mendapatkan kemenangan, Rasulullah pun kembali dahulu ke Madinah. Pada malam harinya, Rasulullah mengizinkan rombongan lainnya berangkat pulang. Namun ketika itu Aisyah sedang pergi untuk hajatnya, dan kembali. Ternyata, kalung di lehernya jatuh dan hilang, sehingga ia turun dari untanya dan mencari-cari kalungnya yang hilang. Ketika pasukan siap berangkat, tandu diatas unta yang mereka angkat ternyata kosong. Tapi mereka masih mengira bila Aisyah berada di dalam tandu itu.

 Setelah kalungnya ditemukan, Aisyah kembali ke pasukan, namun alangkah kagetnya karena tidak ada seorang pun yang ditemukannya. Aisyah tidak meninggalkan tempat itu, dan mengira bahwa penuntun unta akan tahu bahwa dirinya tidak berada di dalamnya, sehingga mereka pun akan kembali ke tempat semula.

Ketika Aisyah tertidur, lewatlah Shafwan bin Mu’thil yang terheran-heran melihat Aisyah tidur. Dia pun mempersilakan Aisyah menunggangi untanya dan dia menuntun di depannya. Berawal dari kejadian itulah fitnahpun akhirnya tersebar, oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.

Ketika tuduhan itu sampai ke telinga Nabi, Beliau Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam akhirnya menjadi sedih. Aisyah pun sangat mengharapkan Allah menurunkan wahyu berkaitan dengan masalahnya, namun wahyu itu tidak kunjung turun. Baru setelah beberapa saat, wahyu yang menerangkan kesucian Aisyah pun turun kepada Beliau. Rasulullah segera menemui Aisyah dan berkata, “Hai Aisyah, Allah telah menyucikanmu dengan firman-Nya, (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nuur:11).

Dengan demikian kemuliaan pun kembali disandang oleh Aisyah. Dan namanya terukir abadi didalam Al-Quran yang mulia, sebagai seorang wanita yang suci. Semoga Allah selalu merahmati Siti Aisyah.



RELATED ARTICLE