Tersandung Karena Sebuah Pujian | DiaryHijaber.com

Writer : Someone Editor : Someone

Tersandung Karena Sebuah Pujian

649 kali dilihat

Ikhlas karena Allah itu memang tidak gampang untuk dilakukan, apalagi jika dibarengi dengan rentetan pujian yang kita terima. Seringkali hal itu kemudian menumbuhkan kesombongan dalam hati kita. Kita merasa lebih baik, lebih tinggi, lebih dan lebih dari pada yang lain. Kita lupa bahwa semua kelebihan itu datangnya hanya dari Allah. Kita hanya seorang hamba, yang jika Allah tidak menurunkan rahmatnya untuk kita, pastilah kita sekarang dalam keadaan tercela.

Ibnul Qayyim mengatakan, “Tidak mungkin dalam hati seseorang menyatu antara ikhlas dan mengharap pujian serta tamak pada sanjungan manusia kecuali bagaikan air dan api.”

Hijabers, seperti yang kita tahu bahwa air dan api tidak akan mungkin bersatu, melainkan akan saling mematikan. Amal yang selama ini kita lakukan, perbaikan diri yang selama ini kita usahakan, dan kebaikan yang selama ini kita jalankan, hanya akan sia-sia di hadapan Allah, karena rasa sombong yang timbul di hati kita.

Kita hanya seorang hamba. Kita tidak akan pernah sempurna, karena itu jangan menilai diri kita suci, atau malah lebih baik dari orang lain. Apalagi menikmati pujian dan sanjungan yang mereka berikan kepada kita. Siapa tahu itu hanyalah jebakan setan yang akan menghilangkan makna ikhlas karena Allah dari hati kita. Allah Maha tahu tentang kelemahan dan kebodohan kita. Dan seharusnya kita sudah cukup malu dengan semua itu.

"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.” (Qs. Al-Najm; 32)

Rasulullah SAW mencontohkan kepada kita,

“Barang siapa yang terpaksa harus memuji saudaranya, maka katakanlah: ‘Aku kira si fulan demikian dan demikian, tetapi Allah-lah yang menilai (keadaan sebenarnya). Aku tidak mau menilai atas nama Allah (kepada seseorang) demikian dan demikian, jika memang kelebihan itu ada pada dirinya.” (Hr.Bukhari Muslim)

Rasulullah juga menganjurkan untuk tidak memuji di hadapan orang yang bersangkutan secara langsung, tapi di depan orang-orang lain dengan tujuan memotivasi mereka. Hal ini dikhawatirkan akan mendatangkan rasa ujub dalam diri orang tersebut.

Seperti dalam sebuah kisah dimana suatu hari, seorang Badui yang baru masuk Islam bertanya tentang Islam. Nabi menjawab bahwa Islam adalah shalat lima waktu, puasa, dan zakat. Maka Orang Badui itu pun berjanji untuk menjalankan ketiganya dengan konsisten, tanpa menambahi atau menguranginya. Setelah Si Badui pergi, Nabi Saw. memujinya di hadapan para Sahabat, “Sungguh beruntung kalau ia benar-benar melakukan janjinya tadi.” Setelah itu beliau menambahi, “Barangsiapa yang ingin melihat penghuni surga, maka lihatlah Orang (Badui) tadi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Thalhah ra.)

Rasulullah SAW juga lebih sering memberikan pujian dalan bentuk doa. Ketika beliau melihat minat dan ketekunan Ibn Abbasra. dalam mendalami tafsir Al-Qur’an, beliau tidak serta merta memujinya. Beliau lebih memilih untuk mendoakan Ibn Abbas ra.: Ya Allah, jadikanlah dia ahli dalam ilmu agama dan ajarilah dia ilmu tafsir (Al-Qur’an).” (HR. Al-Hakim, dari Sa’id bin Jubair)

Begitu pula, di saat Nabi SAW melihat ketekunan Abu Hurairah ra. dalam mengumpulkan hadits dan menghafalnya, beliau lantas berdoa agar Abu Hurairah ra. dikaruniai kemampuan untuk tidak lupa apa yang pernah dihapalnya. Doa inilah yang kemudian dikabulkan oleh Allah Swt. Lalu menjadikan Abu Hurairah ra. sebagai Sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, maka hendaklah dia mendo’akannya agar diberikan keberkahan kepadanya.” (HR. Imam Malik, Ibnu Majah dan Ahmad)

Hijabers, semoga Allah tidak menyiksa kita karena pujian yang diberikan orang lain atau yang kita berikan kepada orang lain. Karena Allah lebih tahu isi hati kita semua, juga masing-masing dari kita lebih tahu lemahnya diri kita dibanding orang lain. Semoga hal itu cukup menjadikan kita agar tidak gampang merasa takjub dan lalai.

Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaaa’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun”

Artinya :

“Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka.”

 

 




 

Writer : Ratna P Sari

Editor : BL



RELATED ARTICLE