Perbedaan Gaya Lebaran di Masa Kecil dan Dewasa | DiaryHijaber.com

Writer : Someone Editor : Someone

Perbedaan Gaya Lebaran di Masa Kecil dan Dewasa

423 kali dilihat

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Hijabers pasti sudah siap dengan segudang acara pada Hari Kemenangan ini. Ngomong-ngomong tentang segudang acara, Hijabers mungkin ingat tradisi anak kecil lebaran yang paling ditunggu. Tentunya Hijabers juga pernah melaukannya. Sayangnya, hal tersebut sudah tidak bisa di rasakan sebagai orang dewasa seperti kita. Kembali mengingat kegiatan masa lalu sepertinya akan sangat menarik. Seperti hal berikut adalah cara menyambut yang dilakukan anak-anak. Mungkin Hijabers juga pernah merasakannya.


Segalanya serba baru

Ketika masih kecil, lebaran adalah ajang untuk memperbaharui barang yang dimiliki. Seperti halnya pakaian baru, sepatu baru, mukena baru, boneka baru, bahkan tas baru. Semua barang-barang tersebut pasti dinantikan untuk dipakai. Setelah itu bermain bersama teman-teman untuk menunjukkan barang barunya. Hal itu juga dilakukan oleh teman-teman Hijabers. Tanpa baju baru biasanya tidak akan terasa lebaran. Sampai-sampai yang diketahui dari lebaran adalah baju baru dan sepatu baru. Itu dapat dikatakan sebagai gaya hidup anak-anak. Sekarang tentu gaya hidup atau cara menyambut lebaran Hijabers sudah jauh berbeda. Kini, kitalah yang membelikan baju dan barang baru untuk ponakan atau anak. Cara inilah yang sering dilakukan oleh seorang dewasa dalam meyambut lebaran.

Silaturahmi sambil cari uang

Kegiatan puncak bagi anak-anak adalah melakukan silaturahmi. Selanjutnya, mereka akan menunggu diberi uang. Kalau tradisi imlek biasanya menamainya angpao. Tapi untuk anak-anak muslim mereka menamai ‘uang buat jajan.' Walaupun pada akhirnya uangnya diberikan pada ibu untuk disimpan. Seringkali ibu memberikan uang tadi hanya untuk dihitung. Setelahnya dikembalikan lagi pada ibu untuk disimpan. Namun ada juga yang langsung diberikan pada ibu karena takut hilang. Dimana pun mereka menyimpan uang lebaran, yang penting dapat uang jajan saja sudah senang. Beda keadaannya dengan sekarang. Kitalah yang akan memberi uang anak-anak. Kita juga yang akan menyimpan uang anak-anak kita.

Lebaran adalah hari paling menyenangkan di dunia

Kali ini Hijabers akan merasakan lebaran dengan sedikit rasa was-was. Bukan berarti karena berhutang sesuatu. Namun, karena libur yang dimiliki hanya sebentar. Setelah itu kembali ke dunia nyata, atau dikenal dengan nama dunia kerja. Hijabers akan bertemu dengan orang yang sama, sampai dalam jangka waktu yang lama akan bertemu dengan dia, dia dan dia lagi. Bedanya saat SD Hijabers merasakan bahwa libur lebaran itu sangat lama, dan terlalu lama. Hal ini karena yang dilakukan anak-anak hanyalah bermain. Tidak ada bedanya lebaran dan hari biasa.

Menceritakan momen lebaran di depan kelas saat SD

Usai libur lebaran justru sangat ditunggu anak-anak. Hal itu karena mereka pasti akan mendapatkan tugas menceritakan momen-momen saat lebaran. Tugas tersebut bisa berupa karangan ataupun menceritakan di depan kelas. Anak mana yang tidak suka bercerita. Tentu mereka akan dengan suka rela menceritakan momen membahagiakan saat lebaran. Entah dalam bentuk karangan maupun cerita secara langsung di depan kelas. Saat ini mungkin kita masih bisa menceritakan momen-momen lebaran. Tapi tentunya tidak sebebas saat TK maupun SD bukan? Saat ini, mungkin langsung berkutat dengan laptop, client dan omelan-omelan bos yang menggemparkan dunia. Tidak masalah, namanya juga lingkaran kehidupan.


Tidak perlu bersedih mengenang momen-momen santai dan relax lebaran ala anak-anak. Suatu hari nanti pun, kita akan merasakan momen santai dan relax pula ketika sudah lansia. Mungkin bisa dikatakan ini yang namanya ‘the circle of life style’. Dengan kata lain gaya hidup atau cara menyambut lebaran saat anak-anak akan dapat kita rasakan lagi setelah beranjak lansia. Begitu seterusnya, sampai anak cicit kita merasakan apa yang kita rasakan. 







Writer : Sam

Editor : BL



RELATED ARTICLE