×

Fashion

Bahan Pakaian yang Ramah dan Tak Ramah Lingkungan

Admin • 9 hari yang lalu

Setiap pakaian yang dikenakan berdampak nyata terhadap lingkungan. Beberapa jenis pakaian memiliki dampak yang baik, sebagian besar lainnya justru berdampak buruk untuk kelangsungan alam.

Perkembangan industri mode yang cepat dan tren yang terus berganti membuat 80 miliar potong kain setiap tahunnya diproduksi. Data dari The Waste and Resources Action Programme (WRAP), pakaian dengan total harga mencapai 140 juta poundsterling atau Rp2,5 triliun ditemukan di tempat pembuangan sampah.

Pembuangan bahan tekstil ini dapat melepaskan racun ke bumi, serat mikro ke saluran air, dan emisi metana ke udara. Pada 2050, industri mode bahkan disebut sebagai penyumbang polusi dunia setelah minyak.

Untuk mencegah dampak buruk dari pakaian, konsumen dapat memilih untuk tidak menggunakan pakaian yang berdampak buruk pada lingkungan dan menggunakan pakaian yang ramah lingkungan.

Berikut jenis pakaian dengan dampak yang buruk untuk lingkungan.

1. Katun
Katun merupakan kain yang terbuat dari serat alami yakni kapas. Konsultan fesyen berkelanjutan Alice Wilby menjelaskan, proses pembuatan katun membutuhkan banyak air. Untuk membuat satu celana jins dibutuhkan 10 ribu hingga 20 ribu galon air dan 3 ribu untuk satu kaus.

Pertanian kapas juga menggunakan pestisida dan bahan kimia beracun yang meresap ke dalam bumi dan merusak persediaan air.

"Kapas merupakan tanaman yang mendatangkan malapetaka bagi manusia dan planet, bahkan sebelum menjadi pakaian," ucap Wilby, dikutip dari Independent.

Penelitian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, sekitar 20 ribu orang meninggal dunia karena kanker dan keguguran akibat bahan kimia yang disemprotkan pada kapas.

2. Sintetis (poliester, nilon, dan akrilik)
Kain sintetis tidak ramah lingkungan karena diproduksi dari minyak. Bahan sintetis juga tidak dapat terurai secara alami dan bergantung pada petrokimia atau ekstraksi bahan bakar fosil.

"Penggunaan bahan bakar fosil membawa serta masalah-masalah merugikan termasuk tumpahan minyak, emisi metana, dan gangguan satwa liar serta hilangnya keanekaragaman hayati," ucap Wilby.

Selain itu, kain sintetis juga berdampak buruk karena setiap kali dicuci akan melepaskan serat mikro ke saluran air yang menyebabkan kerusakan ekosistem laut secara signifikan.

3. Bahan hewan (wol, kulit, dan bulu)
Bahan-bahan dari hewan ini berasal dari peternakan yang menyebabkan 14,5 persen emisi gas rumah kaca. Selain itu, satu miliar hewan dibunuh setiap tahunnya untuk diambil kulit mereka.

Sebanyak 5 persen kulit mengandung kromium, zat beracun yang terdapat pada penderita kanker dan penyakit kulit.

2. Sintetis (poliester, nilon, dan akrilik)
Kain sintetis tidak ramah lingkungan karena diproduksi dari minyak. Bahan sintetis juga tidak dapat terurai secara alami dan bergantung pada petrokimia atau ekstraksi bahan bakar fosil.

"Penggunaan bahan bakar fosil membawa serta masalah-masalah merugikan termasuk tumpahan minyak, emisi metana, dan gangguan satwa liar serta hilangnya keanekaragaman hayati," ucap Wilby.

Selain itu, kain sintetis juga berdampak buruk karena setiap kali dicuci akan melepaskan serat mikro ke saluran air yang menyebabkan kerusakan ekosistem laut secara signifikan.

3. Bahan hewan (wol, kulit, dan bulu)
Bahan-bahan dari hewan ini berasal dari peternakan yang menyebabkan 14,5 persen emisi gas rumah kaca. Selain itu, satu miliar hewan dibunuh setiap tahunnya untuk diambil kulit mereka.

Sebanyak 5 persen kulit mengandung kromium, zat beracun yang terdapat pada penderita kanker dan penyakit kulit.

(Sumber: CNN Today)

Login

Register

Login via : Atau melalui Email :
Registrasi via : Atau melalui Email :