×

Motivasi Islami

Jahat Pada Orang Yang Sudah Menjahati Kita

NayMa • 6 bulan yang lalu

Yang namanya dijahati oleh orang lain, pastilah rasanya menyakitkan. Secara, kita adalah manusia biasa yang punya hati dan rasa. Kita bisa bersedih, menangis, bahkan terpuruk sekalipun. Bahkan nggak jarang akhirnya kita jadi ikut-ikutan membalas dendam kepada orang jahat tersebut, sehingga kita merasa terpuaskan dan orang yang menjahati kita akhirnya mengerti pula tentang rasa yang kita rasakan.

Hari berlalu, dan kita lalu sadar bahwa rasa sakit itu ternyata nggak pernah pergi. Pun ketika kita telah merasa membalaskan rasa sakit yang kita rasa. Kita lalu ingin lebih, kita pun membidik bukan hanya “si tersangka” tersebut. Kita sakiti pula keluarga dan anak keturunannya yang lain. Tujuannya lagi-lagi hanya satu, agar orang yang telah menjahati kita merasakan sakit hati yang telah kita rasakan.

Tahun berlalu, dan seperti sebuah paku yang terlanjur ditancapi oleh paku, rasa sakit itu masih juga begitu membekas. Kita nggak bisa move on, kita nggak mampu move on. Hati kita masih terluka, sangat terluka, bahkan semakin terluka. Kita sama sekali nggak merasa terpuaskan dengan apa yang sudah kita lakukan.

Sampai akhirnya kita menua, kitapun baru sadar bahwa ternyata kita semakin tua. Namun kita belum bisa juga memaafkannya. Kita merasa sakit, dan bahkan makin terpuruk.

Kawan, ternyata nggak akan ada kata selesai episode sebuah dendam. Bahkan kita bisa menjadi orang yang lebih jahat pada diri kita sendiri dari pada orang yang dulu menjahati kita. Karena sebenarnya semua orang bisa menjahati kita, tapi kitalah pengambil keputusan untuk kita bisa memasukkannya ke hati kita lalu mengolah rasa itu jadi yang pedih buat kita atau nggak. Kitalah sendiri orangnya penentu keputusan akhirnya.

Dan jangan sampai kita baru sadar tentang semua ini setelah rentang waktu yang demikian lama. Kita rugi bandar terlalu banyak kawan!. Kita rugi pikiram, waktu tenaga dan lain sebagainya. Ditambah lagi orang yang menyakiti diri kita sendiri itupun belum tentu memikirkan kesalahan yang diperbuatnya untuk kita. Dia tetap melenggang bebas untuk semua kesalahan itu. Lalu kita yang telah disakitinya malah justru menambah sakit yang telah diberikan oleh orang tersebut. Hey, sejahat itukah kita pada diri kita sendiri?

Allah nggak pernah bobok, kawan. Dia akan tetap menyaksikan apa-apa yang kita kita terima dan kita lakukan, baik dulu maupun sekarang. Dialah yang Maha adil dalam memberikan setiap balasan yang sempurna untuk kebaikan dan kejahatan kita. Dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan, kawan. Dan yang harus kita lakukan adalah hanya stay di wilayah yang dia mau, dan memaafkan siapapun yang menyakiti kita. Kalau kita nggak bisa melakukannya demi siapapun, maka lakukan demi diri kita sendiri.

Bukankah kita perlu melegakan batin kita sendiri? Bukankah kita mau hidup bebas lepas tanpa rasa apapun yang memberati diri kita? Bukankah kita berhak buat bahagia dan dibahagiakan paling nggak buat diri kita sendiri? Kalau begitu maafkan dia. Seperti kita juga ingin dimaafkan oleh orang lain saat kita salah. Seperti kita juga ingin dimaafkan oleh Allah saat kita salah.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang”. (Qs. An-Nuur :22)

Jangan sibukkan diri kita dengan dendam dan sakit hati, kawan. Semua orang pada akhirnya akan “memanen” apa yang telah diperbuatnya sendiri. Pun termasuk diri orang jahat tersebut dan diri kita pula. Sekali lagi, stay di wilayah yang Allah mau saja, yaitu jalan kebaikan. Karena bukankah kita mau nantinya hidup kita akan baik-baik saja dan banyak memanen hal yang baik?

(NayMa)

Tulis Komentar

Login

Register

Login via : Atau melalui Email :
Registrasi via : Atau melalui Email :