×

Healthy

Jangan Sering Gunakan Obat Anti Nyamuk Sama Seperti Insektisida

Liani • 16 hari yang lalu

Jangan Sering Gunakan Obat Anti Nyamuk Sama Seperti Insektisida

Hanya boleh dipakai kalau terpaksa. Tapi faktanya, produk ini sering digunakan secara berlebihan. Obat nyamuk Setiap Hari, yang pernah dimuat di Majalah Intisari edisi Maret 2007.

Akibatnya, ia tidak hanya berbahaya bagi nyamuk tapi juga buat manusia. Agar terhindar dari bahaya itu, ada beberapa trik yang bisa kita lakukan.Seperti namanya, obat anti-nyamuk (yang dalam bahasa sehari-hari disebut obat nyamuk), dibuat untuk dikontakkan pada nyamuk, bukan manusia.

Kandungan bahan aktifnya termasuk golongan insektisida, senyawa kimia pembasmi serangga. Senyawa-senyawa ini merupakan bahan asing yang tidak semestinya masuk ke dalam tubuh manusia.

Dalam bentuk apa pun, yang namanya insektisida tetaplah insektisida. Dibakar, disemprotkan, dipanaskan, maupun dioleskan di kulit, ia tetap insektisida.Dalam dosis tepat, ia bisa membasmi nyamuk.Namun jika dosisnya berlebihan, ia juga bisa berbahaya bagi manusia.

"Pemakaian insektisida adalah pilihan kritis bagi umat manusia," kata Dr. rer. nat. Budiawan, dari Pusat Kajian Risiko dan Keselamatan Lingkungan, Fakultas MIPA, Universitas Indonesia.

Obat anti-nyamuk diciptakan karena memang terpaksa. Pemakaiannya semata-mata didasarkan pada pertimbangan bahwa manfaatnya lebih besar daripada risikonya.Di Indonesia, persoalan risiko-manfaat di bidang pernyamukan ini sudah jelasKalau tidak dihalau, nyamuk bisa membawa penyakit malaria, demam berdarah dengue, chikungunya, dan sejenisnya.

Atau paling tidak, membuat kita stres dan kurang tidur. Berdasarkan pertimbangan manfaat inilah, pemakaian obat anti-nyamuk punya alasan.Karena termasuk insektisida, sebetulnya tidak ada obat anti-nyamuk yang betul-betul aman buat manusia.

Yang ada adalah obat antinyamuk yang "relatif lebih aman" dibandingkan dengan insektisida lainnya.Idealnya, obat anti-nyamuk yang baik memenuhi tiga syarat: ampuh, aman, dan kalau bisa, murah.Masalahnya, tiga kata ini adalah kombinasi yang sulit.

Biasanya, semakin ampuh suatu insektisida, semakin tidak aman buat manusia.Ini wajar karena semakin kuat daya basminya terhadap serangga, biasanya semakin kuat juga daya rusaknya terhadap organisme hidup lainnya seperti manusia.Efek buruknya dari gangguan saraf, fungsi liver dan ginjal, sistem pernapasan, hingga efek karsinogenik (memicu kanker) dalam jangka panjang.

Contoh paling gampang adalah diklorvos dan propoksur. Dua insektisida ini pernah dipakai sebagai bahan aktif obat anti-nyamuk.Produknya terkenal ampuh dan relatif lebih murah dibandingkan dengan produk sejenis.

Tapi karena berbahaya bagi manusia, bahan ini kemudian dilarang dipakai sebagai obat anti-nyamuk.Karena tidak ada yang benar-benar aman, satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah meminimalkan bahaya itu. Ini kunci dari manajemen risiko.

Caranya tentu dengan sebisa mungkin menghindari kontak dengan insektisida itu.Jangan di dekat kepalaDi pasaran, setidaknya ada empat bentuk sediaan obat anti-nyamuk yang populer, yaitu bakar, semprot, elektrik, dan oles.Tiga jenis produk yang pertama biasanya mengandung insektisida alletrin, transflutrin, pralethrin, dan sejenisnya.Sedangkan sediaan obat anti-nyamuk oles biasanya mengandung dietiltoluamida (DEET).

Dari keempat jenis sediaan itu, menurut Budiawan, yang relatif paling berbahaya adalah sediaan obat anti-nyamuk bakar.Peyebabnya tak lain karena inhalasi  (hirupan) merupakan jalur cepat insektisida menuju paru-paru sekaligus peredaran darah.Lebih dari itu, ketika produk itu dibakar, ia akan mengeluarkan setidaknya dua jenis senyawa kimia yang mestinya tidak boleh terhirup.Pertama tentu bahan insektisidanya sendiri. Kedua, produk pembakaran yang tidak sempurna.

 

Login

Register

Login via : Atau melalui Email :
Registrasi via : Atau melalui Email :