×

Viral Today

Perawat Palestina yang Tewas Ditembak Israel “Razan Ashraf Najjar”

Liani • 3 bulan yang lalu

Perawat Palestina yang Tewas Ditembak Israel “Razan Ashraf Najjar”


Razan Ashraf Najjar gugur dalam tugas. Peluru tajam yang ditembakkan tentara Israel menembus punggung gadis 21 tahun itu, merangsek ke jantungnya, saat ia sedang memberikan pertolongan pertama pada korban luka di tengah demonstrasi berdarah di perbatasan Gaza, Palestina.


Hingga akhir hidupnya, Jumat, 1 Juni 2018, Razan telah membuktikan bahwa ia adalah perawat yang tangguh. Perempuan itu tak gentar bertugas di garis depan. Wajahnya yang cantik dan kinerjanya yang cekatan membuatnya bak "malaikat" di tengah situasi penuh gejolak di perbatasan Gaza dan Israel.


Razan bekerja sebagai sukarelawan untuk mendobrak budaya konservatif masyarakat Palestina. Dia ingin menunjukkan paramedis bukan hanya tugas seorang laki-laki.
"Menjadi seorang pekerja medis bukan hanya tugas untuk pria. Itu juga pekerjaan bagi wanita," kata Razan saat diwawancara di perbatasan Jalur Gaza. Razan diketahui tinggal di Khuzaa, sebuah desa yang terletak di bagian perbatasan dengan Israel, timur Khan Younis dan wilayah selatan Gaza. Ayahnya, Ashraf al-Najjar (44), memiliki toko yang menjual onderdil motor yang hancur akibat serangan udara Israel pada 2014 lalu. Sejak saat itu ayahnya menjadi pengangguran.

Razan merupakan anak sulung dari enam bersaudara. Ayahnya menyebut putri sulungnya itu tak cukup pandai saat SMA sehingga tak melanjutkan ke universitas sehingga dia berlatih menjadi paramedis selama 2 tahun di Rumah Sakit Nasser di daerah Khan Younis.
Saat peristiwa penembakan itu terjadi, Razan berada di jarak kurang dari 100 meter dari pagar pembatas. Dia sedang memperban seorang pria yang terluka akibat tabung gas air mata. Nahas, Razan terkena tembakan dan langsung rubuh ke tanah.
Publik Gaza menjulukinya "guardian angel" atau "malaikat pelindung". Julukan itu melekat karena kiprahnya dalam menyelamatkan para demonstran Palestina yang terluka oleh tembakan pasukan Israel. Protes massal bertajuk "Great March of Return" adalah gerakan warga Palestina untuk kembali ke tanah kelahirannya yang diduduki Israel, sejak negara Yahudi itu berdiri.



Via Islaminews


Jauh hari sebelum kematiannya, dia bercerita sekilas mengapa memilih menjalani hidup yang sangat berbahaya ini. Najjar ingin membuktikan bahwa perempuan memiliki peran dalam masyarakat konservatif Palestina di Gaza.

"Menjadi tenaga medis bukan hanya pekerjaan untuk seorang pria," katanya, saat wawancara dengan The New York Times di kamp demonstran Gaza bulan lalu. "(Profesi) ini untuk wanita juga."

Saksi mata bernama Ibrahim al-Najjar, 30, mengatakan, satu jam sebelum senja pada hari Jumat atau minggu ke-10 dari protes massal, perawat dengan mantel putih itu berlari ke garis depan untuk menyelamatkan seorang demonstran yang kepalanya dihantam oleh tabung gas air mata Israel.

Namun, siapa sangka aksi penyelamatan itu menjadi misi terakhir bagi Najjar. Sebab, saat menolong demonstran yang terluka tersebut, sniper Israel menembakkan dua hingga tiga peluru dari seberang pagar perbatasan. Tembakan itu menghantam tubuh Najjar bagian atas. Dia dinyatakan meninggal tak lama kemudian.

 

 

Login

Register

Login via : Atau melalui Email :
Registrasi via : Atau melalui Email :